Biak Numfor, Edarinfo.com – Nilai toleransi dan kebinekaan terus menjadi fondasi kehidupan masyarakat Papua. Semangat hidup berdampingan dalam perbedaan dinilai sebagai wujud nyata implementasi Bhinneka Tunggal Ika di tengah masyarakat.

Keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia perlu terus dirawat. Tanpa kesadaran kolektif menjaga persatuan, potensi perpecahan dapat dengan mudah muncul, terlebih jika dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan.

Isu konflik di Papua, misalnya, dinilai bukan berasal dari masyarakat setempat. Justru ada kelompok tertentu yang berupaya memanfaatkan situasi demi kepentingan politik maupun kekuasaan.

Hal tersebut disampaikan Lalita, anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia sekaligus Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia utusan Papua, saat melaksanakan sosialisasi konstitusi kepada masyarakat di Distrik Biak Barat, 9 Februari 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema Pancasila Sila ke-3: Bhinneka Tunggal Ika.

“Dari dulu Papua adalah daerah yang damai. Tidak ada sentimen SARA antara pendatang dan pribumi. Kalau pun muncul, itu biasanya diciptakan oleh kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan tertentu. Masyarakat Papua sejatinya hidup sederhana dan terbuka,” ungkap Lalita.

Ia menegaskan, Papua sejak awal merupakan bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, kehadiran pemerintah dan seluruh warga negara sangat dibutuhkan dalam merajut persatuan dan memperkuat integrasi bangsa.

Menurutnya, prinsip negara kesatuan serta pengakuan terhadap keberagaman daerah menjadi bukti bahwa konstitusi Indonesia memang dirancang untuk menyatukan perbedaan dalam satu ikatan kebangsaan.

“Kegiatan sosialisasi Empat Pilar ini diharapkan membuat masyarakat semakin sadar untuk berperan aktif menjaga persatuan dan kedamaian di lingkungan masing-masing,” tambahnya.

Sosialisasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya persatuan dan keutuhan bangsa. Peserta juga diajak memahami bahwa perbedaan suku, agama, budaya, dan bahasa bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang memperkaya Indonesia.

Sejumlah warga mengaku mendapatkan wawasan baru tentang makna persatuan dan kesatuan, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Papua yang majemuk. Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan sesi dialog dan tanya jawab, di mana masyarakat menyampaikan aspirasi serta harapan demi terciptanya Papua yang damai, rukun, dan tetap setia dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. (*)