Sosok, Edarinfo.com – Tidak semua perjuangan hadir dengan sorak-sorai. Sebagian memilih jalan sunyi, bekerja dalam diam, menyentuh luka yang tak terlihat, dan memeluk mereka yang hampir kehilangan harapan.
Di tengah riuhnya dunia yang sering abai terhadap kesehatan mental, Sofia Ambarini berdiri di satu titik yang jarang dipilih banyak orang: menjadi penopang bagi mereka yang hampir menyerah pada hidup.
Semangat yang dahulu diperjuangkan Raden Ajeng Kartini kini menemukan bentuknya yang baru. Bukan lagi sekadar tentang kesetaraan akses, tetapi tentang memastikan setiap individu tetap memiliki alasan untuk bertahan.
Dari Kegelisahan Menjadi Gerakan
Kisah Sofia tidak dimulai dari panggung besar, melainkan dari kegelisahan yang mengetuk pintu hatinya. Ia menyaksikan satu per satu kabar duka tentang mahasiswa yang mengakhiri hidupnya, khususnya di Malang.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik baginya. Di balik setiap kasus, ada cerita yang terputus, mimpi yang belum sempat tumbuh, dan harapan yang perlahan padam.
Dari sanalah langkah itu dimulai.
Sofia tidak memilih untuk sekadar berempati dari kejauhan. Ia turun langsung, membangun sebuah gerakan yang hari ini dikenal sebagai Indonesia Sehat Jiwa, di bawah naungan Yayasan Mahargijono Schützenberger Indonesia. Sebuah ruang yang tidak menghakimi, tidak menggurui, hanya mendengarkan dan mengcoba mengcarikan jalan.
Memeluk Mereka yang Hampir Jatuh
Di berbagai sudut kota, program Pojok Curhat hadir sebagai ruang kecil dengan dampak yang besar. Di tempat itulah, banyak cerita yang selama ini terpendam akhirnya menemukan jalan keluar.
Ada yang datang dengan mata sembab. Ada yang memilih diam cukup lama sebelum akhirnya berani bicara. Ada pula yang hanya butuh satu hal sederhana: didengarkan.
Sofia memahami, tidak semua orang membutuhkan solusi instan. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah kehadiran.
“Tidak boleh ada yang merasa sendirian,” menjadi prinsip yang ia pegang.
Dalam dunia yang serba cepat, Sofia justru memilih untuk melambat, memberi waktu, memberi ruang, dan memberi rasa aman bagi para mereka yang membutuhkan.
Menyiapkan Penolong dari Kalangan Mereka Sendiri
Sofia sadar, ia tidak bisa berjalan sendiri. Krisis kesehatan mental, terutama di kalangan mahasiswa, membutuhkan pendekatan yang lebih dekat, lebih personal.
Karena itu, ia mendorong lahirnya kader-kader muda sebagai agen perubahan.
Di tangan mereka, stigma perlahan dilawan. Percakapan tentang kesehatan mental mulai dibuka. Dan yang paling penting, empati mulai tumbuh sebagai budaya.
Mereka bukan profesional, tapi mereka hadir sebagai teman. Sebagai sesama yang mengerti, bukan menghakimi.
Di sinilah kekuatan peer support menemukan bentuknya.
Ilmu dan Empati yang Berjalan Bersama
Di balik aktivitas sosialnya, Sofia tetap menapaki jalur akademik. Ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di bidang psikologi, sebuah pilihan yang bukan tanpa alasan.
Baginya, empati saja tidak cukup. Dibutuhkan landasan ilmiah agar setiap langkah yang diambil benar-benar memberi dampak yang berkelanjutan.
Ia percaya, perpaduan antara ilmu dan kepedulian adalah kunci.
“Jika dulu Kartini berjuang untuk hak pendidikan, hari ini kita berjuang agar anak-anak muda kita tetap hidup untuk menikmati pendidikan tersebut. Kita sedang mempersiapkan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas, tapi bermental baja,” ucapnya.
Kalimat itu sederhana, namun menyimpan makna yang dalam, bahwa perjuangan hari ini bukan hanya tentang akses, tetapi tentang keberlangsungan hidup itu sendiri.
Kartini yang Terus Hidup
Kartini mungkin telah lama pergi. Namun semangatnya tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hidup dalam bentuk perempuan-perempuan yang berani melawan batas. Yang memilih jalan sulit demi sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Sofia Ambarini adalah salah satunya.
Di tengah dunia yang kerap bising dengan pencapaian, ia memilih fokus pada satu hal yang paling mendasar: menjaga manusia tetap hidup secara utuh, lahir dan batin.
Dan mungkin, di situlah makna emansipasi menemukan wajahnya yang paling nyata hari ini. (*)