Sosok, Edarinfo.com– Di tengah anggapan umum bahwa pesantren hanya mengajarkan kitab kuning dan rutinitas keagamaan, muncul sosok muda bernama Ahmad Syaid Kokalo yang mematahkan stereotip tersebut. Pemuda asal Tondano, Sulawesi Utara ini justru menemukan dan mengembangkan bakat kreatifnya selama menempuh pendidikan di pesantren. Dari seni, film, desain, hingga dunia media, ia menorehkan prestasi yang menginspirasi.

Lahir dan besar di Tondano, sebuah kota kecil dengan udara sejuk dan masyarakat yang hangat, Ahmad Syaid tumbuh sebagai anak yang aktif dan penuh rasa ingin tahu. Keputusan untuk masuk pesantren bukanlah hal lazim di lingkungannya. Namun, bagi Syaid, pilihan itu justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

“Awalnya berat, jujur saja. Adaptasi dengan lingkungan baru, aturan yang ketat, dan jauh dari rumah bukan hal mudah,” kenangnya. Namun, di lingkungan pesantren itulah benih kreativitasnya mulai tumbuh subur.

Kreativitas di Tengah Kesederhanaan

Tak banyak yang tahu, di balik dinding pesantren yang sederhana, ada ruang-ruang kecil tempat Syaid menuangkan ide. Ia mulai tertarik pada dunia desain grafis, membuat video pendek dokumentasi kegiatan santri, hingga menyutradarai film pendek bertema religi.

“Mungkin karena fasilitas terbatas, jadi kami belajar untuk kreatif dengan apa yang ada,” katanya sambil tersenyum. Salah satu momen paling berkesan baginya adalah ketika pertama kali menyutradarai video dokumenter kegiatan pesantren dan mendapat apresiasi luas dari guru dan teman-teman.

Dukungan dari beberapa ustaz, teman dekat, dan keluarganya membuatnya semakin percaya diri menekuni dunia kreatif. “Mereka nggak cuma ngasih semangat, tapi juga ruang untuk berkembang,” ujarnya.

Pemimpin Muda di Dunia Pesantren

Tak hanya aktif di dunia kreatif, Syaid juga dikenal sebagai sosok organisatoris. Sejak remaja, ia dipercaya memimpin organisasi pelajar sebagai Ketua Dewan Santri Ponpes Arafah Bitung. Baginya, menjadi pemimpin bukan soal jabatan, tapi soal tanggung jawab.

Pengalaman itu mengantarkannya pada peran penting sebagai Program Director di IKHAC TV, sebuah media kampus berbasis pesantren. Di sana, ia belajar banyak tentang manajemen tim, produksi konten, hingga strategi media digital. “Tantangan terbesar adalah menjaga semangat tim dalam kondisi serba terbatas. Tapi justru di situ saya belajar makna kolaborasi yang sesungguhnya.”

Dari semua pencapaiannya, satu penghargaan yang paling membekas di hati adalah saat film pendek garapannya dinobatkan sebagai karya terbaik dalam festival film santri tingkat nasional. “Itu seperti validasi bahwa jalan yang saya pilih tidak sia-sia,” tuturnya.

Jejak Profesional: Dari Mojokerto hingga Kementerian

Langkah Syaid di dunia media dan komunikasi terus berkembang. Ia pernah dipercaya sebagai ajudan Wakil Bupati Mojokerto bagian media, di mana ia bertanggung jawab menangani dokumentasi, publikasi, dan komunikasi visual kegiatan wakil kepala daerah tersebut. Pengalaman ini memperkaya perspektifnya dalam dunia pelayanan publik.

Setelah itu, ia kembali ke daerah asal dan dipercaya sebagai penanggung jawab media di Pengadilan Agama Tondano. Di lembaga ini, ia turut mengembangkan sistem informasi digital dan memperbaiki manajemen konten agar lebih dekat dengan masyarakat.

Saat ini, Ahmad Syaid aktif sebagai Konsultan Individu di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ia terlibat dalam berbagai program strategis yang menyentuh langsung sektor kreatif dan digital branding destinasi wisata. Peran ini menjadi bukti bahwa latar belakang pesantren bukanlah batas untuk berkiprah di dunia profesional yang lebih luas.

Merangkai Agama dan Media

Menggabungkan nilai-nilai keagamaan dengan media modern bukanlah perkara mudah. Ia mengaku beberapa kali mendapat kritik, baik dari kalangan konservatif maupun komunitas kreatif. Namun, Syaid memilih untuk tetap melangkah.

“Buat saya, agama dan kreativitas bukan dua hal yang bertentangan. Justru bisa saling menguatkan. Film pendek atau konten media bisa jadi jembatan dakwah yang relevan untuk generasi hari ini,” tegasnya.

Moto hidupnya mencerminkan itu: “Jika kamu memulainya karena Allah, jangan berhenti karena manusia.” Sebuah prinsip yang lahir dari pengalaman jatuh bangun, termasuk ketika karyanya pernah dianggap “tidak pantas” hanya karena tampil beda.
Kini, Syaid aktif membagikan konten inspiratif di media sosial. Baginya, media digital adalah ladang dakwah sekaligus ruang berkarya. Ia percaya pesan-pesan positif bisa menjangkau lebih banyak anak muda melalui format yang segar dan kreatif.

“Kalau kita nggak isi media dengan konten yang membangun, ya akan dipenuhi oleh hal-hal yang kosong makna,” ucapnya. Ia ingin santri atau anak muda lainnya tak ragu mengejar mimpi di dunia kreatif. “Kuncinya satu: mulai aja dulu, sambil terus belajar.”

Ahmad Syaid Kokalo adalah bukti bahwa santri tidak selalu identik dengan dunia konservatif dan sempit. Ia adalah potret pemuda pesantren yang berani menempuh jalur berbeda, menggabungkan nilai dengan kreativitas, agama dengan teknologi, tradisi dengan inovasi.

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering kali melupakan makna, sosok seperti Syaid mengingatkan bahwa menjadi religius tak harus kuno, dan menjadi kreatif tak harus menjauh dari nilai. Ia membuktikan bahwa pesantren bisa menjadi awal dari jalan besar.

“Ketika kita berbuat karena Allah, jangan berhenti karena manusia. Karena sejatinya, apapun yang kita lakukan karena Allah akan menjadi penguat bagi kita, dan bernilai ibadah,” tutupnya.(*)