Makassar, Edarinfo.com – Pelantikan pengurus DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia Sulawesi Selatan periode 2026–2029 yang digelar di Gammara Hotel pada Selasa malam menghadirkan nuansa berbeda dibandingkan periode sebelumnya.

Perbedaan itu tercermin dari hadirnya sosok Dr. Muhammad Syaiful yang dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Harian, seorang akademisi dengan latar belakang antropologi yang menawarkan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dalam gerakan kepemudaan.

Dr. Syaiful resmi dilantik mendampingi Ketua DPD KNPI Sulsel, Hj. Vonny Ameliani Suardi. Acara tersebut turut dihadiri tiga Ketua Umum DPP KNPI, yakni Haris Pertama, Putri Khairunnisa, dan Ali Hanafiah.

Sebagai akademisi dari UIN Alauddin Makassar, Dr. Syaiful dikenal sebagai dosen Ilmu Politik sekaligus doktor di bidang antropologi. Namun, yang membuatnya menonjol bukan sekadar gelar akademik, melainkan konsistensinya dalam mengaktualisasikan keilmuan melalui riset lapangan dan pemberdayaan komunitas rentan di Sulawesi Selatan.

Pendekatan ini menjadi fondasi dalam membangun arah baru KNPI, bergeser dari pola seremonial menuju organisasi berbasis pengetahuan dan realitas sosial.

Dalam pernyataannya, Dr. Syaiful menegaskan bahwa KNPI ke depan tidak boleh lagi terjebak dalam rutinitas simbolik tanpa dampak nyata.

“Saya tidak ingin KNPI hanya pandai membuat deklarasi. KNPI harus menjadi ruang konsolidasi gagasan, penguatan kapasitas, dan pengabdian sosial kepemudaan. Kita ingin organisasi ini lebih akademis, berbasis riset, dan hadir menjawab kebutuhan nyata masyarakat,” tegasnya.

Ia menilai tantangan pemuda saat ini semakin kompleks, mulai dari tingginya pengangguran, krisis kualitas pendidikan, persoalan kesehatan mental, hingga terbatasnya ruang partisipasi sosial-politik. Karena itu, KNPI dituntut bertransformasi menjadi organisasi yang tidak hanya responsif, tetapi juga solutif dan berbasis kajian ilmiah.

Sorotan lain dari gagasannya adalah cara pandang kritis terhadap bonus demografi. Menurutnya, narasi optimisme tidak cukup tanpa kesiapan yang terukur.

“Bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan. Jika pemuda tidak dipersiapkan dengan baik, maka ia justru bisa berubah menjadi bencana demografi. KNPI harus hadir membangun gerakan kepemudaan yang progresif, inklusif, dan berakar pada problem sosial,” ujarnya.

Dengan latar belakang sebagai antropolog, Dr. Syaiful membawa pendekatan yang kontekstual, menekankan pentingnya pemetaan masalah berbasis data dan realitas lapangan sebagai dasar perumusan program dan kebijakan organisasi.

Pelantikan ini menjadi titik awal harapan baru bagi KNPI Sulawesi Selatan. Di tangan seorang akademisi, organisasi kepemudaan ini diharapkan bertransformasi menjadi lebih intelektual, kritis, dan berdampak, menjadikan pemuda bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek utama perubahan social. (*)