Opini, Edarinfo.com – Tujuh puluh sembilan tahun bukanlah usia yang singkat bagi sebuah organisasi mahasiswa. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lahir dari kegelisahan intelektual dan keberanian moral seorang Lafran Pane, di tengah situasi bangsa yang belum stabil, tekanan ideologis, serta kecaman dari berbagai pihak. Dari rahim kondisi yang keras itulah HMI bertumbuh, bukan sebagai organisasi instan, melainkan sebagai gerakan nilai.

Sejak awal, HMI diproyeksikan bukan sekadar wadah berhimpun, tetapi ruang kaderisasi. Ia menjadi lokomotif perubahan, kawah candradimuka bagi calon pemimpin bangsa, sekaligus arena dialektika antara keislaman dan keindonesiaan. Dari rahimnya lahir banyak tokoh yang mewarnai sejarah sosial, politik, hingga intelektual Indonesia.

Namun memasuki usia ke-79, refleksi jujur perlu dilakukan. HMI sedang berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu manis: menurunnya kualitas kesadaran ideologis dan etos berorganisasi di kalangan kader.

Semangat ber-HMI tak lagi sekuat generasi pendahulu. Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang semestinya menjadi kompas ideologis perlahan hanya menjadi bahan diskusi formal, dihafal saat Latihan Kader, lalu dilupakan dalam praktik keseharian. AD/ART yang seharusnya menjadi pedoman etika dan arah gerak organisasi kerap dipandang sebatas dokumen administratif, bukan aturan moral yang mengikat.

Di sisi lain, besarnya nama HMI justru melahirkan paradoks. Tidak sedikit kader yang merasa cukup “menumpang” reputasi organisasi. Mereka menikmati jaringan, fasilitas, dan status sosial sebagai kader HMI, tetapi enggan tampil dan berkontribusi. Tanggung jawab perjuangan dihindari, sementara kenyamanan keanggotaan dinikmati.

HMI yang seharusnya menjadi ruang pengabdian perlahan berubah, bagi sebagian orang, menjadi zona nyaman.

Fenomena ini melahirkan tipe kader yang ingin “enaknya saja”: hadir saat ada keuntungan, menghilang ketika organisasi membutuhkan tenaga, pikiran, dan keberanian. Aktivisme tergeser pragmatisme. Militansi kalah oleh kalkulasi pribadi. HMI tampak besar secara kuantitas, tetapi rapuh dalam kualitas.

Kondisi tersebut diperparah oleh realitas mahasiswa hari ini yang hidup di era serba instan. Proses dianggap melelahkan, konsistensi dinilai tidak efisien, dan simbol lebih menarik ketimbang substansi. Budaya instan ini merembes ke tubuh organisasi, membentuk kader yang ingin cepat diakui tanpa kesediaan untuk ditempa.

Padahal, sejarah berdirinya HMI justru berkebalikan dengan logika instan itu. Lafran Pane mendirikan organisasi ini dalam tekanan dan penolakan. Ia menghadapi kecaman ideologis yang serius, bahkan risiko pembubaran. Namun ia tidak mundur, sebab yang diperjuangkan bukan kenyamanan, melainkan nilai. Bukan popularitas, melainkan tanggung jawab sejarah terhadap umat dan bangsa.

Semangat itulah yang semestinya menjadi cermin bagi kader HMI hari ini. Apakah kita masih memiliki keberanian untuk tampil dan bekerja tanpa sorotan? Apakah kita masih bersedia berproses meski panjang dan melelahkan? Atau justru bersembunyi di balik kebesaran nama HMI tanpa memberi makna bagi kebesarannya?

Usia 79 tahun seharusnya menjadi momentum muhasabah kolektif. Bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan titik balik untuk mengembalikan HMI pada khitahnya sebagai organisasi kader, bukan organisasi penonton. NDP bukan slogan, AD/ART bukan hiasan, dan keanggotaan bukan tiket kenyamanan.

Jika HMI ingin tetap relevan di tengah perubahan zaman, jawabannya bukan dengan menurunkan standar perjuangan, tetapi dengan menghidupkan kembali kesadaran bahwa menjadi kader HMI berarti siap tampil, siap berkontribusi, dan siap berkorban.

HMI boleh menua dalam usia, tetapi ia tak boleh tua dalam semangat. Sebab organisasi yang besar bukan yang sekadar dikenal namanya, melainkan yang terasa perannya.

 

Penulis, Muhammad Faiz Ansorullah (Ketua Umum HMI Cabang Sidrap)