Makna Pancasila di Tengah Perubahan Zaman

Opini, Edarinfo.com – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar agenda tahunan atau seremoni kenegaraan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang untuk kembali bertanya: sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam sikap, kebijakan, dan perilaku kita sebagai bangsa?

Pancasila tidak hanya berdiri sebagai lima sila yang dihafalkan sejak bangku sekolah. Ia adalah fondasi moral kehidupan berbangsa—sebuah pandangan yang mengajarkan bahwa kemajuan tidak boleh kehilangan kemanusiaan, kebebasan tidak boleh menghilangkan persatuan, dan kekuasaan harus selalu memiliki tanggung jawab kepada rakyat.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Pancasila menghadapi berbagai tantangan, baik berupa konflik politik, perubahan sosial, maupun perkembangan zaman. Namun, kekuatan Pancasila bukan semata-mata terletak pada kata-katanya, melainkan pada kemampuan bangsa Indonesia untuk menerjemahkan nilai-nilainya ke dalam kehidupan nyata.

Pancasila harus hadir ketika yang kuat berhadapan dengan yang lemah.

Ia harus hadir ketika masyarakat membutuhkan keadilan. Ia harus hadir ketika perbedaan mulai menjadi alasan untuk saling menjauh. Dan ia harus hadir ketika kepentingan pribadi maupun kelompok berhadapan dengan kepentingan bangsa.

Karena itu, memperingati Hari Kesaktian Pancasila seharusnya tidak berhenti pada upacara dan pidato. Peringatan ini harus menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa Indonesia dibangun bukan hanya dengan pembangunan fisik, tetapi juga dengan karakter, persatuan, keadilan, dan kepedulian sosial.

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan teknologi, tantangan terhadap nilai kebangsaan juga semakin kompleks. Masyarakat dapat dengan mudah terpecah oleh informasi yang belum tentu benar, kepentingan kelompok, maupun perbedaan pilihan.

Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya.

Pancasila mengajarkan bahwa berbeda bukan berarti bermusuhan, dan bersatu bukan berarti harus seragam.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang bebas dari perbedaan, tetapi bangsa yang mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan bersama.

Hari Kesaktian Pancasila akhirnya menjadi pengingat bahwa menjaga Pancasila bukan hanya tugas pemerintah, aparat negara, atau generasi tertentu. Menjaga Pancasila adalah tanggung jawab seluruh warga negara.

Sebab Pancasila akan tetap kuat bukan karena sering disebut, tetapi karena nilai-nilainya terus diamalkan.

Pancasila bukan sekadar warisan sejarah. Ia adalah amanah untuk masa depan.

Selamat memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Mari menjaga persatuan, merawat kemanusiaan, menegakkan keadilan, dan menjadikan Pancasila sebagai nilai yang hidup dalam tindakan.

Pada akhirnya, memperingati Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi tentang menentukan sikap hari ini dan menata langkah untuk hari esok.

Mari kita tidak hanya mengucapkan Pancasila, tetapi menghidupinya. Tidak hanya menghafalkan silanya, tetapi menjalankan nilainya. Tidak hanya berbicara tentang persatuan, tetapi menjadi bagian dari mereka yang merawatnya.

 

Penulis, Nuryadi, S.H,MM (Ketua Tim PKH Sidrap)