Opini, Edarinfo.com – Setiap 30 September, bangsa Indonesia kembali dihadapkan pada satu pertanyaan penting: apa yang sebenarnya harus kita pelajari dari tragedi politik 1965?

G30S bukan sekadar peristiwa masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa ketika perebutan kekuasaan, konflik ideologi, ketegangan politik, dan lemahnya kepercayaan antarkelompok bertemu dalam satu ruang, bangsa dapat membayar harga yang sangat mahal.

Namun, memahami sejarah tidak cukup hanya dengan menghafal siapa yang dianggap sebagai pelaku atau korban. Sejarah harus menjadi cermin untuk melihat kondisi bangsa hari ini.

Indonesia sekarang tentu berbeda dengan Indonesia 1965. Sistem politik, teknologi, masyarakat, dan tantangannya telah berubah. Tetapi ada satu hal yang tetap relevan: jangan sampai perbedaan politik berubah menjadi permusuhan sosial.

Di era media sosial, konflik tidak selalu muncul melalui senjata. Ia dapat muncul melalui informasi yang dipelintir, berita palsu, ujaran kebencian, fanatisme kelompok, dan politik yang membuat masyarakat saling mencurigai.

Karena itu, pelajaran terbesar dari G30S bukan sekadar tentang masa lalu, melainkan tentang pentingnya menjaga demokrasi, hukum, persatuan, dan kemampuan masyarakat untuk berpikir kritis.

Kita juga perlu berhati-hati dalam membicarakan sejarah. Peristiwa 1965 memiliki berbagai kajian dan interpretasi akademik. Mengingat sejarah bukan berarti membenarkan kekerasan, tetapi juga bukan berarti membiarkan sejarah digunakan untuk membangun kebencian baru.

Bangsa yang dewasa bukan bangsa yang melupakan sejarah, melainkan bangsa yang mampu belajar dari sejarah tanpa terus hidup dalam dendam masa lalu.

Hari ini tantangannya mungkin bukan lagi pertarungan ideologi seperti pada 1960-an. Tantangannya adalah bagaimana negara menghadapi kemiskinan, ketimpangan, korupsi, disinformasi, intoleransi, dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi.

Jika persoalan-persoalan tersebut tidak diselesaikan dengan keadilan dan tata kelola yang baik, konflik sosial dapat kembali tumbuh dalam bentuk yang berbeda.

Maka, memperingati G30S seharusnya tidak berhenti pada upacara dan slogan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita sudah belajar?

Sebab sejarah yang hanya dikenang akan menjadi peringatan. Tetapi sejarah yang dipahami akan menjadi kompas bagi masa depan bangsa.

Indonesia tidak membutuhkan generasi yang terus mewarisi kebencian politik masa lalu. Indonesia membutuhkan generasi yang berani mempelajari sejarah secara kritis, menghormati korban, menolak kekerasan politik, dan menjaga agar perbedaan tidak kembali menjadi alasan untuk memecah bangsa.

G30S adalah bagian dari sejarah Indonesia. Tugas generasi sekarang bukan menghidupkan kembali konfliknya, tetapi memastikan tragedi semacam itu tidak terulang dalam bentuk apa pun.

 

Penulis, Nuryadi, S.H,.M.M (Pemerhati Ekonomi dan Politik)