Sidrap, Edarinfo.com – Kemarau panjang dan fenomena El Nino memberi tekanan terhadap sektor pertanian Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Namun, kondisi tersebut belum mampu mematahkan produktivitas sebagian besar lahan pertanian di daerah berjuluk Bumi Nene Mallomo itu.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengungkapkan, dari sekitar 51.000 hektare lahan yang ditanami, sekitar 4.500 hektare terdampak kemarau. Sementara sekitar 46.000 hektare lainnya masih berhasil dipanen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa di tengah tekanan cuaca, sebagian besar lahan pertanian Sidrap masih mampu mempertahankan produksi.
“Kita terus bekerja maksimal karena sumber pendapatan utama di sini sektor tanaman pangan,” kata Syaharuddin saat menghadiri kegiatan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Sidrap dan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, di Aula Saromase SKPD, Kompleks Perkantoran Bupati Sidrap, Selasa (8/9/2026).
Menurut Syaharuddin, menjaga produktivitas pertanian menjadi hal penting karena sektor tanaman pangan memiliki peran besar terhadap perekonomian masyarakat Sidrap.
Karena itu, pemerintah daerah terus melakukan berbagai langkah untuk menghadapi dampak kemarau. Salah satunya melalui program listrik masuk sawah yang ditujukan untuk membantu petani mendapatkan dukungan terhadap kebutuhan pengairan lahan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk memastikan lahan pertanian tetap produktif meski kondisi cuaca tidak bersahabat.
Bagi Syaharuddin, tantangan kemarau tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan produksi pangan. Dampaknya juga berkaitan langsung dengan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
“Ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang ada di desa. Kita ingin sektor pertanian tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.
Ia mencontohkan Desa Padangloang Alau, salah satu wilayah yang memiliki potensi pertanian cukup besar. Desa tersebut memiliki sekitar 591 hektare lahan persawahan.
Dalam satu kali panen, nilai produksinya disebut mencapai sekitar Rp67 miliar.
Potensi tersebut, kata Syaharuddin, menunjukkan bahwa pertanian memiliki ruang yang besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat, bukan sekadar aktivitas produksi di tingkat petani.
Karena itu, Pemkab Sidrap juga mendorong pengembangan pertanian secara inklusif dengan memperkuat sektor lain yang saling berkaitan, seperti peternakan, perkebunan, perikanan hingga industri pengolahan.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuat masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil panen, tetapi juga memperoleh nilai tambah dari berbagai aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar sektor pertanian.

Di sisi lain, ketahanan pertanian Sidrap menghadapi kemarau juga menjadi bagian dari semangat kerja sama antardaerah.
Pada kesempatan tersebut, Pemkab Sidrap menandatangani MoU dengan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kerja sama itu mencakup bidang pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik, termasuk replikasi inovasi daerah di sektor pertanian, pengelolaan pajak daerah serta digitalisasi layanan.
Syaharuddin mengatakan, kerja sama tersebut menjadi ruang bagi kedua daerah untuk saling belajar.
“Hulu Sungai Utara memiliki 116 inovasi daerah, sementara Sidrap memiliki 126 inovasi yang dihimpun dari desa, kelurahan, dan perangkat daerah. Lewat inovasi ini kita sama-sama berbagi ilmu,” ujarnya.
Menurutnya, inovasi yang berhasil diterapkan di satu daerah tidak seharusnya berhenti menjadi milik daerah tersebut. Praktik baik dapat dipelajari dan disesuaikan dengan kebutuhan daerah lain.
“Apa yang baik di Hulu Sungai Utara kita ambil, apa yang perlu dicontoh kita pelajari. Kita tidak boleh cepat puas dengan apa yang kita miliki,” katanya.
Kerja sama itu juga mempertemukan dua daerah yang sama-sama memiliki kekuatan pada sektor pertanian, meski karakter wilayahnya berbeda.
“Karakter daerah kita mirip, sama-sama pertanian. Bedanya, di sana lebih banyak rawa,” kata Syaharuddin.
Jika Sidrap saat ini menghadapi tantangan kemarau, Hulu Sungai Utara memiliki pengalaman mengelola pertanian di kawasan rawa. Perbedaan karakter tersebut menjadi ruang bagi keduanya untuk bertukar pengalaman dan mencari praktik yang dapat diterapkan sesuai kondisi masing-masing.
Wakil Bupati Hulu Sungai Utara Hero Setiawan menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemerintah Kabupaten Sidrap. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat langsung berbagai potensi dan pengalaman yang telah dikembangkan Sidrap.
“Kami datang ke sini disambut seperti saudara,” kata Hero.
Ia menyebut kesamaan karakter sebagai daerah pertanian menjadi salah satu alasan pentingnya kerja sama kedua daerah. Sementara perbedaan kondisi lahan dapat menjadi kesempatan untuk saling memperkaya pengetahuan.
Bagi Sidrap, kemampuan mempertahankan panen di tengah kemarau menjadi bukti bahwa tantangan iklim tidak selalu harus berujung pada penurunan produktivitas. Dengan dukungan kebijakan, inovasi dan kolaborasi, sektor pertanian tetap memiliki ruang untuk bertahan dan berkembang.
Dari sekitar 51.000 hektare lahan yang ditanami, 46.000 hektare yang masih berhasil dipanen menjadi gambaran bahwa pertanian Sidrap belum menyerah pada kemarau.
Justru di tengah tekanan itulah, pemerintah daerah terus mencari cara agar sawah tetap produktif, petani tetap memiliki penghasilan, dan pertanian tetap menjadi salah satu penggerak utama ekonomi masyarakat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Sidrap Andi Rahmat Saleh, Kepala Bapenda Sulsel, jajaran Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara, sejumlah kepala OPD terkait, serta tamu undangan lainnya. (*)