Makassar, Edarinfo.com – ‎‎‎‎‎‎‎‎‎Momentum peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE/2026 di Sulawesi Selatan dimaknai tidak hanya sebagai perayaan spiritual umat Buddha, tetapi juga diwujudkan melalui gerakan sosial, lingkungan, dan kebangsaan yang melibatkan lintas komunitas. Melalui rangkaian agenda bertema “Shanti Margadarshaka: Adhyatma Shanti, Vishwa Shanti” atau “Penunjuk Jalan Perdamaian: Kedamaian Batin untuk Perdamaian Dunia”, GEMABUDHI Sulawesi Selatan mengambil peran aktif dalam mendorong kepedulian sosial dan kelestarian lingkungan di tengah masyarakat.

‎Rangkaian kegiatan Hari Raya Waisak diawali dengan aksi penuangan 1.500 liter eco-enzyme di Kanal Jongaya, Jalan Monginsidi Baru, Kelurahan Balla Parang, Kecamatan Rappocini, Makassar, Minggu (10/5/2026). Kegiatan bertajuk “Aksi Waisak: Dari Limbah Jadi Berkah” itu melibatkan Bimas Buddha Sulawesi Selatan, GEMABUDHI Sulawesi Selatan, Wanita Theravada Indonesia (WANDANI) Sulawesi Selatan, Pemuda Theravada Indonesia (PATRIA), INLA Sulawesi Selatan.

‎Pembimas Buddha Sulawesi Selatan, Sumarjo mengatakan aksi lingkungan tersebut merupakan agenda tahunan yang terus dikembangkan di sejumlah titik di Kota Makassar sebagai bagian dari gerakan sosial umat Buddha.

‎“Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan. Tahun lalu eco-enzyme juga dituangkan di lokasi ini, dan tahun ini kegiatan juga dilakukan di Kanal Tanjung Bunga. Ini juga merupakan arahan dari Pak Menteri,” ujar Sumarjo.

‎Ia menjelaskan, rangkaian Waisak tahun ini tidak hanya berfokus pada isu lingkungan, tetapi juga memperkuat kegiatan sosial lintas komunitas dan keagamaan.

‎“Nanti masih ada rangkaian kegiatan lagi pada tanggal 17 di pesantren. Kegiatan ini merupakan bagian dari visi Pak Menteri Agama. Kami aktif mendukung seluruh kegiatan sosial,” tambahnya.

Menurutnya, rangkaian kegiatan Waisak juga akan dilanjutkan dengan agenda donor darah pada 24 Mei mendatang yang mendapat dukungan dari pemerintah daerah sebagai bagian dari gerakan kemanusiaan dan kepedulian sosial.

Sementara itu, Ketua GEMABUDHI Sulawesi Selatan, Enrique Justine Sun, mengatakan gerakan eco-enzyme menjadi bentuk kepedulian terhadap persoalan sampah dan pencemaran air yang terus meningkat di Kota Makassar, termasuk di aliran kanal hingga Sungai Jeneberang.

‎“GEMABUDHI menggunakan eco-enzyme untuk lingkungan. Sampah terus meningkat, termasuk di kanal di sini hingga sampai Sungai Jeneberang. Dari arahan pusat, kami melakukan penuangan eco-enzyme,” katanya.

Menurut Justine, gerakan tersebut merupakan program nasional yang dijalankan serentak berdasarkan arahan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI melalui surat edarannya.

“Kegiatan ini berdasarkan arahan Dirjen Bimas Buddha se-Indonesia, kami dianjurkan membuat eco-enzyme. Ini dilakukan serempak di seluruh Indonesia. Kami di GEMABUDHI memiliki 765 liter eco-enzyme yang dapat digunakan untuk membantu membersihkan kanal,” ujarnya.

‎Ia berharap gerakan tersebut mampu mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah rumah tangga dan kebersihan lingkungan kanal demi mengurangi risiko banjir di Kota Makassar.

Selain aksi lingkungan, GEMABUDHI Sulawesi Selatan juga menyiapkan sejumlah agenda strategis dalam momentum Waisak 2026. Pada 29 Mei 2026 mendatang, GEMABUDHI Sulsel bersama PERMABUDHI Sulawesi Selatan akan menggelar Dialog Kebangsaan di Aula Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan dengan tema “Aktualisasi Nilai Universal Waisak dan Pancasila demi Keutuhan NKRI.”

Dialog tersebut rencananya menghadirkan Ketua Umum GEMABUDHI, Bambang Patijaya, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Ali Yafid, serta Ketua PERMABUDHI Sulsel Yonggris sebagai keynote speaker.

‎Tidak hanya itu, rangkaian Waisak 2026 juga akan ditutup melalui Gerakan Penghijauan Terpadu Waisak 2026 yang digelar di Bala Ratanajoti, Mawang, pada 30 Mei 2026. Agenda tersebut akan diisi dengan penanaman pohon ketapang, mahoni, dan pucuk merah sebagai bentuk implementasi strategis dalam mendukung ketahanan ekosistem dan mitigasi perubahan iklim di Sulawesi Selatan.

Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, GEMABUDHI Sulawesi Selatan menegaskan bahwa semangat Waisak tidak hanya diwujudkan dalam ritual keagamaan, tetapi juga melalui aksi nyata yang menghadirkan manfaat sosial, memperkuat persatuan, dan menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.