Makassar, Edarinfo.com – Ada banyak cara manusia berbicara. Sebagian memilih suara.
Sebagian lagi memilih diam. Dan sebagian kecil memilih menulis.

Kelihatannya sederhana, hanya duduk, membuka laptop atau buku catatan, lalu menyusun kata demi kata. Tapi sesungguhnya, menulis bukan pekerjaan teknis. Ia bukan sekadar merangkai huruf menjadi kalimat. Menulis adalah pekerjaan batin. Pekerjaan keberanian.

Karena setiap kali kita menulis, sebenarnya kita sedang membuka diri. Sedikit demi sedikit. Tanpa sadar. Tanpa topeng.

Tidak semua orang berani jujur pada dirinya sendiri.
Apalagi jujur di hadapan orang lain.

Kita hidup di dunia yang mengajarkan untuk terlihat kuat, terlihat baik-baik saja, terlihat sempurna. Luka disembunyikan. Tangis ditahan. Cerita pahit dikubur dalam-dalam. Kita sibuk membangun citra, bukan membangun kejujuran.

Tapi menulis memaksa hal yang berbeda. Ia seperti cermin.

Ketika kita mulai menulis, kita tak bisa lagi berbohong. Kata-kata tahu mana yang pura-pura. Kalimat tahu mana yang dibuat-buat. Tulisan yang lahir dari kepalsuan selalu terasa kosong. Hambar. Tak bernyawa.

Sebaliknya, tulisan yang lahir dari luka, dari keresahan, dari kegagalan, justru terasa hidup. Karena di sanalah kejujuran bersemayam. Dan jujur, itu menakutkan. Banyak orang ingin menulis, tapi berhenti di kepala.

Takut dihakimi.
Takut dianggap lebay.
Takut cerita pribadinya terlalu telanjang.
Takut tidak disukai.

Padahal, sejak kapan kejujuran harus meminta izin? Menulis sejatinya adalah keberanian untuk berkata, “Ini aku. Dengan segala kurangku.”

Bukan versi terbaik.
Bukan versi paling rapi.
Tapi versi paling nyata.

Saat kita menulis tentang kegagalan, kita sedang mengakui bahwa kita pernah jatuh.
Saat kita menulis tentang kehilangan, kita sedang mengakui bahwa kita pernah rapuh.
Saat kita menulis tentang harapan, kita sedang mengakui bahwa kita pernah hampir menyerah.

Tulisan menjadi ruang pengakuan. Dan pengakuan membutuhkan nyali.

Menulis juga sering terasa seperti membuka luka lama. Ada kenangan yang tadinya terkubur rapi, tiba-tiba muncul lagi saat jari mulai mengetik. Wajah-wajah lama. Suara-suara lama. Peristiwa yang pernah ingin kita lupakan.

Kadang menyakitkan. Kadang membuat dada sesak. Tapi justru di situlah proses penyembuhan terjadi. Karena apa yang tidak pernah diungkapkan, biasanya tak pernah benar-benar sembuh. Menulis memberi kesempatan untuk berdamai.

Dengan masa lalu.
Dengan diri sendiri.
Dengan hal-hal yang tak bisa diubah.

Seperti berbicara pelan kepada diri sendiri: “Tidak apa-apa. Aku sudah melewati semua itu.” Dan anehnya, setiap selesai menulis, rasanya sedikit lebih ringan. Seolah sebagian beban sudah pindah ke kertas.

Bagi sebagian orang, menulis adalah pekerjaan. Profesi. Tuntutan deadline. Target pembaca. Optimasi SEO. Angka klik.

Tapi jauh sebelum semua itu, menulis adalah ruang paling personal. Ia tempat paling jujur. Tempat di mana aku bisa menjadi diri sendiri tanpa harus menjelaskan apa-apa.

Kita bisa marah tanpa dimarahi.
Kita bisa menangis tanpa dilihat siapa-siapa.
Kita bisa bercerita tanpa dipotong.

Tulisan seolah ia sedang mendengarkan kita dengan sabar.
Tak pernah menyela.
Tak pernah menghakimi.

Dan mungkin itu sebabnya banyak orang bertahan dengan menulis, karena baginya ia seperti teman paling setia. Lucunya, semakin jujur sebuah tulisan, semakin banyak orang merasa terhubung. Padahal awalnya kita menulis untuk diri sendiri.

Tapi ternyata, luka kita mirip dengan luka orang lain. Ketakutan kita tidak sendirian. Keresahan kita ternyata mewakili mereka.

Saat seseorang membaca tulisan kita lalu berkata, “Aku ngerasain hal yang sama,” di situlah kita sadar, Keberanian untuk membuka diri ternyata juga menyembuhkan orang lain. Tulisan yang lahir dari hati selalu menemukan jalannya sendiri.

Bukan karena bahasanya rumit.
Bukan karena katanya indah.

Tapi karena ia ditulis dari rasa yang tulus. Dan ketulusan selalu terasa bagi pembaca. Aku percaya, setiap orang sebenarnya punya cerita. Semua orang punya luka.
Punya kegagalan. Punya rahasia kecil yang tak pernah diucapkan. Bedanya hanya satu: berani atau tidak untuk menuliskannya. Karena menulis bukan soal bakat. Ia soal keberanian.
Berani terlihat biasa.
Berani terlihat lemah.
Berani terlihat manusia.

Teknis bisa dipelajari. Struktur bisa diperbaiki. Tata bahasa bisa diasah. Tapi keberanian?
Itu harus datang dari dalam. Dari keputusan sederhana: “Aku mau jujur.”

Jadi kalau ada yang bertanya kenapa kita menulis, jawabannya sederhana.

Bukan untuk terlihat pintar.
Bukan untuk terlihat puitis.

Tapi untuk tetap waras.

Untuk mengenali diri sendiri.
Untuk memahami apa yang sebenarnya kita rasakan.
Untuk memberi ruang pada hal-hal yang tak sempat terucap.

Karena setiap tulisan adalah potongan diri. Dan setiap kali kita menulis, kita sedang berkata pada dunia, dan pada diri kita sendiri: “Aku ada. Aku pernah merasakan ini. Dan ceritaku layak didengar.” Pada akhirnya, menulis memang bukan hanya tentang kata-kata. Ia tentang keberanian.

Keberanian untuk membuka hati.
Keberanian untuk jujur.
Keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Dan mungkin, di dunia yang penuh kepura-puraan ini, keberanian semacam itu adalah bentuk perlawanan paling sunyi, tapi paling nyata.

Menulis, pada akhirnya, adalah cara paling sederhana untuk mengatakan: “Aku tidak ingin sembunyi lagi.”

Dan ketika keberanian itu sudah tumbuh, jangan biarkan tulisanmu berhenti di laci atau folder yang tak pernah dibuka. Cerita-cerita jujur layak menemukan pembacanya. Layak diterbitkan, dibagikan, dan hidup di tangan banyak orang. Jika suatu hari kamu ingin membukukan kisahmu, mencari rumah yang mau merawat naskah dengan hangat dan menghargai suara penulisnya, Penerbit Gasing bisa menjadi salah satu tempat terbaik untuk memulai langkah itu, karena setiap keberanian menulis pantas diberi ruang untuk sampai pada dunia. (*)