Sidrap, Edarinfo.com – Deru mesin espresso terdengar bersahut-sahutan. Aroma kopi yang baru digiling memenuhi ruangan. Di sudut lain, dua mahasiswa sibuk berdiskusi sambil membuka laptop. Tak jauh dari mereka, sepasang pekerja kantoran menuntaskan rapat kecil. Sementara di meja dekat jendela, seseorang tenggelam dalam buku dengan secangkir cappuccino yang mulai dingin. Pemandangan seperti ini hampir bisa ditemui setiap hari di banyak coffee shop.

Fenomena kedai kopi yang tak pernah sepi bukan lagi sekadar tren musiman. Coffee shop telah bertransformasi menjadi ruang sosial baru. Bukan hanya tempat membeli minuman berkafein, melainkan ruang bertemu, bekerja, hingga mencari suasana. Kopi hanyalah pintu masuknya.

Ruang Ketiga yang Dicari Banyak Orang

Pengamat gaya hidup menyebut coffee shop sebagai third place, ruang ketiga setelah rumah dan tempat kerja. Tempat netral untuk singgah tanpa tekanan formalitas.

Di rumah, orang kerap terdistraksi urusan domestik. Di kantor, suasana terasa kaku dan penuh tuntutan. Coffee shop menawarkan alternatif: santai, tapi tetap produktif.

Tak heran, banyak pekerja lepas, mahasiswa, hingga komunitas kreatif menjadikannya “kantor kedua”. Colokan listrik, Wi-Fi stabil, dan meja panjang komunal menjadi fasilitas yang dicari.

Beberapa kedai bahkan sengaja merancang interior dengan konsep cozy, minimalis, atau industrial untuk menciptakan rasa betah berlama-lama. Semakin nyaman tempatnya, semakin lama pengunjung tinggal.

Lebih dari Sekadar Minum Kopi

Menariknya, tak semua pengunjung datang untuk kopi. Banyak yang justru memesan teh, cokelat, atau makanan ringan. Sebagian bahkan hanya membeli satu minuman untuk duduk berjam-jam.

Artinya, yang dijual bukan lagi produknya semata, melainkan pengalaman. Coffee shop hari ini menjual suasana: musik yang lembut, pencahayaan hangat, aroma kopi, hingga estetika ruangan yang “Instagramable”. Kombinasi ini menciptakan pengalaman yang sulit digantikan.

Bagi generasi muda, nongkrong di coffee shop juga menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas sosial. Bertemu teman, berdiskusi ide, atau sekadar mengunggah foto di media sosial menjadi aktivitas yang tak terpisahkan. Tempat yang nyaman otomatis menjadi titik kumpul.

Tempat Lahirnya Ide dan Komunitas

Tak sedikit ide bisnis, proyek kreatif, bahkan gerakan komunitas lahir dari meja coffee shop.

Diskusi santai sering kali lebih cair dibanding rapat formal. Suasana yang rileks memudahkan orang bertukar pikiran.

Beberapa kedai memanfaatkan peluang ini dengan menggelar acara seperti open mic, diskusi buku, nonton bareng, hingga pameran karya lokal. Coffee shop pun berubah menjadi ruang budaya kecil di tengah kota.

Kehadiran kegiatan semacam ini membuat pelanggan datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk terlibat. Ada rasa memiliki.

Strategi Bisnis yang Semakin Adaptif

Di sisi lain, pelaku usaha kopi semakin cerdas membaca pasar. Menu dibuat variatif, mulai dari kopi susu gula aren, minuman non-kopi, hingga makanan berat. Harga disesuaikan dengan segmen anak muda. Desain tempat dibuat fotogenik. Promosi gencar lewat media sosial. Semua dirancang agar orang datang dan kembali lagi.

Beberapa brand bahkan membangun citra sebagai “tempat kerja kreatif”, “ruang diskusi”, atau “tempat santai keluarga”. Positioning ini memperluas target pengunjung, tidak hanya penikmat kopi. Hasilnya, traffic pengunjung lebih stabil sepanjang hari, dari pagi hingga malam.

Bukan Lagi Soal Kafein

Pada akhirnya, ramainya coffee shop membuktikan satu hal: orang tidak sekadar mencari minuman. Mereka mencari kenyamanan.

Kenyamanan untuk jeda dari rutinitas. Kenyamanan untuk bertemu. Kenyamanan untuk bekerja. Kenyamanan untuk merasa tidak sendirian. Kopi hanya pelengkap cerita.

Fenomena itu pula yang terlihat di sejumlah kedai lokal di kabupaten Sidrap, termasuk 54 Coffeee House, yang tak hanya menawarkan racikan kopi, tetapi juga menghadirkan ruang nyaman bagi pelanggan untuk bekerja, berdiskusi, maupun sekadar menikmati waktu senggang, membuktikan bahwa coffee shop hari ini adalah tentang pengalaman, bukan semata minuman di dalam cangkir. (*)