Sidrap, Edarinfo.com – Anggota DPRD Sidenreng Rappang (Sidrap), Andi Tenri Sangka, meminta jajaran rumah sakit di Kabupaten Sidrap menjadikan berbagai persoalan pelayanan kesehatan yang terjadi di daerah lain sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Hal itu ia sampaikan dalam rapat bersama Dinas Kesehatan dan para direktur rumah sakit se-Kabupaten Sidrap, Selasa (11/8/2026).

Dalam rapat tersebut, sosok yang akrap disapa Pung Kengkeng mencontohkan kasus viral seorang pasien BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan, yang mengeluhkan lamanya menunggu kamar rawat inap. Kasus tersebut disorot luas setelah unggahan pasien bersangkutan di media sosial mendapat beragam respons.

Melalui akun Threads @yurizaltrich pada 22 Juli 2026, Yurizal mengaku telah menunggu kamar rawat inap selama delapan jam.

“8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs,” tulis Yurizal dalam unggahannya.

Unggahan tersebut kemudian mendapat sejumlah komentar yang dinilai tidak empatik. Beberapa komentar bahkan menyarankan pasien pindah ke ruang jenazah agar lebih cepat mendapatkan kamar. Ada pula komentar lain yang menyinggung kondisi kesehatan dan menyakiti diri dengan nada bercanda.

Sejumlah akun yang memberikan komentar tersebut yang diduga berprofesi sebagai dokter, perawat, maupun tenaga kesehatan kini di nonaktifkan.

Anggota DPRD Sidrap ini yang juga dikenal vocal dalam menyuarakan aspirasi rakyat menilai kasus tersebut perlu dilihat sebagai pelajaran bagi penyelenggara pelayanan kesehatan, termasuk di Sidrap. Menurutnya, pelayanan kepada masyarakat tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan prosedur dan aspek administratif, tetapi juga menyangkut sikap, komunikasi, dan empati terhadap pasien.

Rapat bersama Komisi DPRD dengan Dinas Kesehatan dan para direktur rumah sakit se-Kabupaten Sidrap, Selasa (11/8/2026).

“Kasus itu semestinya menjadi pelajaran buat teman-teman yang berkecimpung di bidang kesehatan. Karena yang rugi kita (kalian) juga,” tuturnya di depan peserta rapat.

Ia meminta pihak rumah sakit melakukan evaluasi secara berkala terhadap kualitas pelayanan dan menjadikan setiap keluhan masyarakat sebagai bahan perbaikan.

“Keluhan masyarakat jangan dianggap hanya sebagai kritik. Itu harus menjadi bahan evaluasi ta untuk melihat apa yang masih kurang dalam pelayanan kita,” tambahnya.

Menurut dia, rumah sakit perlu memastikan setiap pasien mendapatkan pelayanan yang profesional dan manusiawi, tanpa membedakan latar belakang maupun jenis kepesertaan jaminan kesehatan.

Ia juga mengingatkan tenaga kesehatan untuk menjaga etika komunikasi, termasuk ketika berinteraksi dengan pasien maupun ketika menggunakan media sosial.

Perkembangan media sosial, kata dia, membuat pengalaman pasien dapat dengan cepat diketahui publik. Karena itu, kualitas pelayanan dan perilaku tenaga kesehatan turut memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan.

Rapat bersama Dinas Kesehatan dan para direktur rumah sakit se-Kabupaten Sidrap tersebut menjadi bagian dari evaluasi pelayanan kesehatan masyarakat. Andi berharap evaluasi tidak berhenti pada pembahasan administratif, tetapi menghasilkan langkah konkret untuk memperbaiki kualitas pelayanan di setiap fasilitas kesehatan.

“Yang kita inginkan adalah bagaimana masyarakat merasa dilayani dengan baik, dihargai, dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak,” ujarnya. (*)