Opini, Edarinfo.com – Beberapa waktu lalu, seorang alumni menghubungi saya. Ia sudah lulus beberapa bulan lalu. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif dalam berbagai kegiatan, memiliki nilai yang baik, dan dikenal sebagai pribadi yang tekun. Namun pesan yang ia kirimkan tidak berisi kabar tentang pekerjaan barunya. Ia hanya bertanya singkat, “Bu, Tabe adakah info loker?”

Sebagai dosen, pertanyaan seperti itu bukanlah hal yang baru. Hampir setiap tahun saya menerimanya dari alumni yang berbeda. Ada yang baru lulus, ada yang sudah berbulan-bulan mengirim lamaran, bahkan ada yang mulai kehilangan kepercayaan diri karena belum mendapatkan pekerjaan yang diharapkan.

Di balik toga, senyum, dan foto wisuda yang memenuhi media sosial, ternyata tersimpan kegelisahan yang tidak selalu terlihat. Banyak lulusan perguruan tinggi yang memasuki dunia baru dengan harapan besar, tetapi juga dengan ketidakpastian yang tidak kecil.

Bagi sebagian keluarga, gelar sarjana merupakan hasil perjuangan panjang. Tidak sedikit orang tua yang rela bekerja lebih keras, menjual aset, atau menekan berbagai kebutuhan rumah tangga demi membiayai pendidikan anak-anak mereka. Mereka percaya bahwa pendidikan tinggi adalah jalan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Harapan itu tentu tidak salah. Pendidikan tetap menjadi salah satu instrumen paling penting untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Namun realitas saat ini menunjukkan bahwa memiliki ijazah saja tidak selalu cukup.

Jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah setiap tahun, sementara kesempatan kerja tidak selalu tumbuh dalam kecepatan yang sama. Persaingan menjadi semakin ketat. Dunia kerja juga mengalami perubahan yang sangat cepat akibat perkembangan teknologi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan. Banyak pekerjaan yang dahulu tersedia kini berubah bentuk, bahkan sebagian mulai menghilang.

Dalam situasi seperti ini, muncul berbagai pertanyaan. Apakah kampus gagal menyiapkan lulusannya? Apakah mahasiswa kurang memiliki keterampilan yang dibutuhkan? Atau memang lapangan pekerjaan yang tersedia belum mampu menampung jumlah lulusan yang terus meningkat?

Menurut saya, persoalan ini tidak dapat dijelaskan dengan mencari satu pihak yang harus disalahkan. Kampus perlu terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Mahasiswa juga perlu membangun kompetensi yang lebih luas daripada sekadar kemampuan akademik. Dunia usaha dan pemerintah pun memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya kesempatan kerja.

Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita.

Selama ini, ketika berbicara tentang lulusan perguruan tinggi, fokus kita hampir selalu sama: bagaimana mereka mendapatkan pekerjaan. Kita jarang membicarakan kemungkinan lain yang sebenarnya tidak kalah penting, yaitu bagaimana mereka menciptakan pekerjaan.

Sejak awal, banyak mahasiswa tumbuh dengan gambaran bahwa setelah lulus mereka harus mencari lowongan kerja. Pola pikir tersebut begitu kuat sehingga keberhasilan sering diukur dari seberapa cepat seseorang diterima bekerja. Padahal pendidikan tinggi memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan pencari kerja.

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak lulusan yang berani mengambil langkah berbeda. Lulusan yang mampu melihat peluang di tengah keterbatasan. Lulusan yang berani membangun usaha, menciptakan inovasi, dan membuka ruang bagi orang lain untuk berkembang bersama.

Sebagai dosen, saya selalu merasa bangga ketika mendengar alumni diterima bekerja di perusahaan atau instansi yang mereka impikan. Namun ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika mengetahui seorang alumni berhasil membangun usahanya sendiri, lalu mempekerjakan orang lain.

Mungkin usahanya masih sederhana. Mungkin hanya sebuah usaha kuliner kecil, toko daring, jasa desain, atau layanan digital yang dijalankan dari rumah. Namun dari usaha kecil itu ada keluarga lain yang memperoleh penghasilan. Ada orang lain yang mendapatkan kesempatan bekerja. Ada harapan yang tumbuh karena seseorang berani memulai.

Di situlah saya melihat makna pendidikan yang sesungguhnya. Pendidikan tidak hanya mengubah kehidupan orang yang memperoleh gelar, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika seorang alumni membuka lapangan kerja, dampak pendidikan tidak lagi berhenti pada dirinya sendiri. Dampak itu menjalar kepada banyak orang.

Karena itu, mungkin sudah saatnya ukuran keberhasilan pendidikan tinggi diperluas. Kita tentu perlu bangga terhadap lulusan yang berhasil mendapatkan pekerjaan. Namun kita juga perlu memberikan perhatian yang sama kepada mereka yang berhasil menciptakan pekerjaan.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan seseorang untuk memasuki dunia kerja. Pendidikan juga tentang membangun keberanian untuk menghadapi ketidakpastian, menemukan peluang, dan menciptakan masa depan.

Harapan saya sederhana. Semoga semakin banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya membawa pulang ijazah, tetapi juga membawa keberanian untuk berkarya, berinovasi, dan menciptakan peluang bagi orang lain. Sebab masa depan bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh mereka yang mencari pekerjaan, tetapi juga oleh mereka yang berani membuka pekerjaan.

 

Penulis, Sitti Hardiyanti Arhas (Dosen Pendidikan Administrasi Perkantoran, UNM)