Sosok, Edarinfo.com – Tidak semua orang menjadikan luka sebagai jalan pulang bagi orang lain. Sebagian memilih diam, sebagian lagi memilih bertahan. Namun bagi Aliya Zahra, luka justru menjadi alasan untuk bergerak.
Ia tidak memulai dari ruang besar, bukan pula dari panggung-panggung gemerlap. Perjalanannya tumbuh dari sesuatu yang sangat personal, pengalaman hidup sebagai anak perempuan dalam keluarga broken home. Dari sana, perlahan kesadaran itu mengendap: bahwa menjadi perempuan kerap berarti harus belajar kuat, bahkan ketika tidak ada yang benar-benar menguatkan.
“Saya dari dulu memang suka baca buku-buku tentang keprempuanan. Apalagi isu itu sangat relate dengan hidupku,” ungkapnya dalam sesi wawancara bersama awak media kami, Selasa (24/03/26).
Ketertarikannya pada literasi dan isu perempuan bukan sekadar hobi. Ia lahir dari pengalaman, dari luka yang mencari makna, dan dari keinginan untuk memahami diri sendiri. Dari membaca, ia menemukan bahasa untuk mengerti, sekaligus untuk berani berbicara.
Dari Empati ke Aksi
Kesadaran personal itu tidak berhenti sebagai refleksi. Lingkaran pertemanan menjadi ruang kedua yang memperkuat panggilannya. Di sana, Aliya mendengar banyak cerita yang serupa: tentang kehilangan, tentang luka, tentang perempuan-perempuan yang merasa sendiri dalam menghadapi hidup. Di titik itulah empati berubah menjadi aksi.
“Saya sering dengar keluhan sesama penyintas. Dari situ muncul keinginan supaya perempuan di luar sana tidak merasa sendiri dan berani melawan,” katanya.
Keinginan itu kemudian menjelma menjadi gerakan nyata. Pada 2022, saat masih berstatus mahasiswa baru, Aliya bersama tiga rekannya mendirikan komunitas Setara Perempuan.
Setara dalam Ruang yang Tidak Selalu Setara
Bagi Aliya, nama Setara Perempuan bukan sekadar simbol, melainkan sebuah awal perjuangan.
Komunitas ini awalnya bergerak di bidang literasi, membangun ruang baca dan diskusi bagi perempuan. Namun lebih dari itu, ia ingin menciptakan ruang aman, tempat perempuan bisa tumbuh tanpa rasa takut, tanpa sekat latar belakang.
“Supaya semua perempuan bisa tergabung dengan kedudukan yang setara,” jelasnya.
Langkahnya tidak berhenti di sana. Ia juga menginisiasi terbentuknya Women Center Sumenep, sebuah lembaga yang bergerak di bidang pemberdayaan dan advokasi perempuan. Dari sini, gerakannya semakin luas, ia menilai bahwa perjuangan perempuan bukan hanya soal edukasi, tetapi juga keberanian menghadapi realitas yang kerap tidak ramah terhadap mereka.
Bahkan, dalam beberapa kasus pendampingan, ia harus berhadapan dengan risiko nyata.
“Pernah sampai dapat teror. Karena isu yang didampingi cukup sensitif,” ungkapnya.

Konsistensi di Tengah Kelelahan
Mengelola gerakan sosial bukan jalan yang mudah. Tidak ada imbalan materi yang menjanjikan. Yang ada hanyalah kelelahan, tekanan, dan sesekali keinginan untuk berhenti. Aliya pun pernah berada di titik itu.
“Capek pasti pernah. Karena ini bukan pekerjaan yang memberi benefit materi, selain kebermanfaatan,” katanya.
Namun ada satu hal yang membuatnya tetap bertahan: lingkungan yang saling menguatkan dan visi yang sama.
Dari perjalanan ini, ia belajar dua hal penting, konsistensi dan esensi.
Ia melihat banyak aktivis yang berhenti ketika masa berorganisasinya selesai. Idealisme mereka ikut padam. Bagi Aliya, itu adalah hal yang ingin ia hindari.
“Kita harus ingat esensi gerakan kita. Bahwa ada kebahagiaan ketika kita melihat perempuan berhasil diselamatkan,” ujarnya.
Literasi dan Daya Kritis yang Memudar
Di tengah derasnya arus digital, Aliya melihat literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan berpikir.
Menurutnya, persoalan terbesar anak muda hari ini bukan kurangnya akses informasi, melainkan minimnya dialektika.
“Mereka membaca hanya untuk tahu, bukan untuk berdiskusi. Akhirnya daya kritis itu pudar,” jelasnya.
Ia percaya, literasi adalah pintu perubahan, terutama bagi perempuan.
“Ada pepatah klasik yang mengatakan, manusia berubah karena dua hal: pemikirannya terbuka, atau hatinya terluka. Literasi penting supaya pemikiran perempuan terbuka,” katanya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun lingkungan yang ramah baca, bahkan di tengah dominasi dunia digital.

Perempuan, Ruang Aman, dan Suara yang Didengar
Bagi Aliya, isu paling mendesak bagi perempuan hari ini adalah ruang aman dan harmonisasi gender. Ia menegaskan, perjuangan perempuan bukan sekadar menuntut hak, tetapi memastikan ruang aman itu benar-benar hadir dan berkelanjutan.
Ia juga menyoroti satu hal yang kerap luput: empati antar perempuan.
“Kondisi hari ini, perempuan justru kurang empati satu sama lain. Banyak yang fokus pada karier masing-masing,” ujarnya.
Padahal, menurutnya, solidaritas adalah fondasi utama dalam gerakan perempuan.
Di ruang publik, ia percaya suara perempuan bukan pelengkap, melainkan indikator kemajuan sebuah masyarakat.
“Kalau semua gender diberi ruang yang sama, penyelesaian masalah sosial akan lebih mudah,” tegasnya.
Melawan dengan Cara Membaca
Di balik aktivitasnya di ruang publik, Aliya menyimpan satu ketakutan yang sederhana, berhenti membaca. Ya, baginya berhenti membaca sebuah tragedi.
“Berhenti membaca itu tragedi. Artinya saya berhenti berpikir dan jadi budak arus sosial,” katanya.
Di situlah letak kekuatannya. Bukan hanya pada keberanian bersuara, tetapi pada kesediaan untuk terus belajar.
Buku baginya bukan sekadar bacaan, tetapi bagian dari identitas. Bahkan karyanya yang ia sebut sebagai “anak ideologis” Catatan Kritis Perempuan, menjadi simbol atas konsistensi perjuangannya.
Menjadi, Bukan Sekadar Ada
Aliya tidak berbicara tentang mimpi yang rumit. Ia hanya ingin perempuan bisa hidup dengan bahagia, berproses dengan bahagia, dan menjadi bagian dari masyarakat yang juga bahagia.
Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan visi besar: dunia yang lebih adil, di mana perempuan memiliki ruang aman dalam pendidikan, kesehatan, politik, dan kehidupan secara utuh. Ketika ditanya ingin dikenang sebagai apa, jawabannya sederhana:
“Penulis, pemikir, dan ibu yang baik.”
Dan mungkin, semua itu bermula dari satu prinsip hidup yang terus ia jaga: “Bacalah, bacalah, bacalah. Setarakan persepsi sebelum advokasi, samakan gagasan sebelum membuat gerakan. Hidup dan berjuanglah selayaknya perempuan.”
Aliya Zahra
Perempuan yang lahir di Sumenep, 08 Oktober 2004. Ia aktif MC, Voice Over Talent, Penulis, dan Public Speaker. Berpengalaman berbicara di berbagai forum nasional dan komunitas, dengan fokus pada isu perempuan, literasi, dan pengembangan diri. Founder komunitas pemberdayaan perempuan dan penulis buku Catatan Kritis Perempuan.
Keahlian Utama
• Public Speaking & Training
• Literasi & Penulisan
• Personal Branding
• Moderasi & MC Profesional
• Pemberdayaan Perempuan
• Pengembangan Komunitas
Pengalaman Utama
• Founder – Setara Perempuan (2022–sekarang)
• Founder & Koordinator – Women Center Sumenep (2025–sekarang)
• Sekretaris Umum – KOHATI HMI Cabang Sumenep (2025–2026)
• Koordinator – Generasi Emas Nusantara (GEN) Ganding (2024–2025)
• Ketua Umum – OSIS SMA Zainussalim (2021–2022)
• Sekretaris Umum – LPM IST Universitas Annuqayah (2022–2023)
Pengalaman Speaking (Terpilih)
• Speaker Seminar & Pelatihan Literasi (2023–2025)
• Speaker Leadership & Keperempuanan (berbagai kampus & komunitas)
• Narasumber RRI Pro 1 Sumenep (2025)
• Speaker Webinar Nasional & Forum Diskusi (HMI, KOHATI, dll)
• Pemateri Public Speaking & Personal Branding
• Host Podcast Universitas Annuqayah (2025)
• MC Seminar Internasional & Event Nasional
Karya
• Catatan Kritis Perempuan: Sebuah Analisis Dinamika Sosial (ISBN IPUSNAS, 2024)
• Madura Anti Feminis(me): Pembebesan Tanah Tandus dan Tengka (ISBN IPUSNAS, 2026)
Pendidikan
S1 Teknologi Informasi – Universitas Annuqayah (2022–sekarang)
Pelatihan
• MSIB Public Speaking – Kemendikbudristek (2024)
• LK-1 & LK-2 HMI
• Latihan Khusus Kohati (LKK)
• Pelatihan Kepenulisan LKKNU Jawa Timur
Prestasi Terpilih
• 5 Peserta Terbaik MSIB Batch 7 (2025)
• 5 Best Speaker Debat Ilmiah Mahasiswa (2023)
• Juara II Lomba Essay HMI (2023)
• Juara I Tausiah Ekonomi Syariah FoSSEI Jatim (2024)
• Medali Perunggu Olimpiade Bahasa (2023)
Fokus Isu
Perempuan | Literasi | Pendidikan | Kepemudaan | Pengembangan Diri