Opini, Edarinfo.com – Setiap sepuluh malam terakhir Ramadan, ada pemandangan yang semakin akrab di banyak masjid: anak-anak muda memenuhi saf, membawa tas kecil, sajadah, dan niat untuk beri’tikaf. Praktik yang dahulu identik dengan generasi tua kini justru menemukan momentumnya di kalangan generasi muda.
Fenomena ini menarik untuk dibaca lebih dalam. Apakah ini sekadar tren religius musiman khas Ramadan, atau justru menjadi tanda bahwa generasi muda sedang mencari sesuatu yang hilang dalam kehidupan sosial modern?
Meningkatnya partisipasi anak muda dalam i’tikaf tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar dalam struktur sosial masyarakat. Generasi hari ini hidup dalam lanskap yang kerap disebut sebagai era hiper-modernitas: dunia yang bergerak cepat, ditopang teknologi, penuh tekanan kompetisi, dan relasi sosial yang semakin cair. Dalam kondisi seperti ini, agama sering kali menjadi ruang pelarian sekaligus ruang pencarian makna.
Sosiolog Prancis, Émile Durkheim, pernah menjelaskan bahwa ritual keagamaan memiliki fungsi sosial yang penting—membangun solidaritas kolektif dan memperkuat identitas komunitas. Dalam konteks ini, i’tikaf bukan hanya hubungan personal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga pengalaman sosial yang menghadirkan kebersamaan di tengah kehidupan yang kian individualistik.
Bagi banyak anak muda, masjid pada malam-malam i’tikaf menjadi ruang yang berbeda dari keseharian mereka. Tidak ada hirarki sosial yang kaku, tidak ada tekanan akademik atau profesional, dan tidak ada kompetisi status yang sering kali mengemuka di media sosial. Semua duduk sejajar—membaca Al-Qur’an, berzikir, atau sekadar merenung. Dalam situasi ini, masjid menjelma sebagai ruang “detoks sosial” dari hiruk-pikuk kehidupan modern.
Namun, fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial. Dakwah digital, konten Ramadan, hingga dokumentasi pengalaman spiritual tersebar luas melalui Instagram, TikTok, dan YouTube. Apa yang dulu merupakan praktik sunyi kini kerap tampil sebagai pengalaman publik.
Dalam teori diffusion of innovation yang dikemukakan oleh Everett Rogers, praktik sosial dapat menyebar dengan cepat melalui jaringan komunikasi. I’tikaf hari ini tidak hanya menyebar melalui mimbar masjid, tetapi juga melalui algoritma.
Dampaknya tentu ambivalen. Di satu sisi, ini memperluas akses dakwah dan menghidupkan kembali tradisi ibadah yang sempat dianggap kuno oleh sebagian generasi muda. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan kritis: apakah religiusitas ini lahir dari kesadaran spiritual yang mendalam, atau sekadar menjadi bagian dari budaya simbolik yang mengikuti arus tren digital?
Sosiolog agama Peter L. Berger menyebut fenomena ini sebagai religious resurgence—kembalinya agama ke ruang publik modern setelah sempat diprediksi meredup. Namun Berger juga mengingatkan bahwa kebangkitan ini sering hadir dalam bentuk yang kompleks: antara spiritualitas yang otentik dan ekspresi religius yang bersifat performatif.
Di sinilah pentingnya melihat fenomena i’tikaf anak muda secara jernih. Kehadiran mereka di masjid adalah sinyal positif bahwa ruang spiritual masih hidup dalam diri generasi muda. Di tengah budaya populer yang kerap dianggap menjauhkan anak muda dari agama, fenomena ini menunjukkan bahwa pencarian makna tetap menjadi kebutuhan yang tak tergantikan oleh teknologi.
Namun, masyarakat tidak boleh berhenti pada euforia. Energi religius ini perlu diarahkan agar tidak berhenti sebagai ritual musiman. Jika i’tikaf hanya ramai di Ramadan tetapi tidak berlanjut dalam etika sosial sehari-hari, maka ia berisiko menjadi simbol tanpa transformasi.
Tantangan sesungguhnya bukan sekadar meramaikan masjid selama Ramadan, tetapi menjadikannya sebagai pusat pembentukan karakter sepanjang tahun. I’tikaf seharusnya menjadi pintu masuk bagi lahirnya generasi muda yang lebih reflektif, lebih peduli, dan lebih sadar akan tanggung jawab sosialnya.
Jika itu yang terjadi, maka fenomena ini layak disambut dengan optimisme. Namun jika ia hanya berhenti sebagai tren spiritual yang viral setiap Ramadan, kita mungkin hanya menyaksikan religiusitas yang ramai di permukaan, tetapi rapuh di kedalaman.
Pada akhirnya, i’tikaf anak muda bukan sekadar cerita tentang ibadah malam. Ia adalah cermin kegelisahan generasi—tentang pencarian makna, identitas, dan ketenangan di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Dan mungkin, di tengah gemuruh modernitas itu, masjid kembali menemukan perannya sebagai tempat manusia pulang—bukan hanya kepada Tuhan, tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Penulis: Amul Hikmah Budiman
(Direktur Eksekutif Saoraja Institute Indonesia)