Jakarta, Edarinfo.com – Aksi solidaritas digelar oleh berbagai elemen masyarakat sipil dalam rangka memperingati International Women’s Day pada Minggu (8/3/2026) di kawasan Patung Kuda, dekat Monumen Nasional.

Massa aksi terdiri dari buruh, mahasiswa, akademisi, pejuang demokrasi, hingga pekerja masyarakat sipil lainnya. Sejumlah organisasi turut hadir dalam aksi tersebut, di antaranya Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Forum Mahasiswa Nasional (FMN), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), serta Kesatuan Perjuangan Rakyat (KPR).

Mereka menyuarakan berbagai tuntutan yang berkaitan dengan hak-hak dasar masyarakat, mulai dari persoalan upah layak, pendidikan, pangan, tanah, hingga demokrasi yang dinilai belum sepenuhnya dipertanggungjawabkan oleh negara.

Sorak-sorai massa aksi yang memenuhi kawasan tersebut menciptakan suasana solidaritas yang penuh semangat, saling menguatkan satu sama lain dalam memperjuangkan hak bersama.

Aksi Berbalut Diskusi Cerita Perjuangan

Aksi dimulai sekitar pukul 15.30 WIB dengan long march menyusuri Jalan Merdeka Barat menuju Patung Kuda. Namun sesampainya di sekitar lokasi, massa aksi ditahan oleh aparat kepolisian sehingga tidak dapat melanjutkan aksi hingga tepat di area sekitar Patung Kuda.

Massa kemudian menyampaikan aspirasi di sepanjang ruas jalan tersebut. Berbagai orasi, khususnya dari buruh perempuan, terus bergema selama aksi berlangsung. Meski terik matahari menyengat, semangat peserta aksi tidak surut.

Setelah rangkaian orasi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi terbuka yang melibatkan perwakilan buruh, pers, mahasiswa, pejuang lingkungan, serta aktivis Human Rights Watch (HAM). Para peserta duduk bersama membahas pengalaman perjuangan di sektor masing-masing.

Diskusi tersebut juga menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh salah satu peserta aksi bernama Neng.

“Bagaimana perjuangan rakyat dapat menggalang kekuatan dan isu yang ada?” tanya Neng dalam forum diskusi tersebut.

Perempuan Termarginalkan, Namun Tereksploitasi

Dalam diskusi tersebut, Neng yang berasal dari SMI dan KPR menyampaikan kegelisahannya mengenai makna peringatan Hari Perempuan Internasional.

“IWD ini bukan hanya sebatas seremonial semata, bukan hanya orasi. Namun juga diskusi publik terkait isu perempuan. Seringkali isu perempuan ini termarginalkan dengan isu populis yang ada. Padahal perempuan merawat dan menjaga tenaga produksi untuk kapitalis,” ujarnya.

Menurutnya, kerja-kerja domestik yang dilakukan perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan sistem ekonomi. Tanpa kerja domestik tersebut, sistem ekonomi yang ada tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.

Ia juga menyoroti sistem ekonomi yang dinilai semakin menempatkan manusia sebagai alat produksi semata, sehingga memicu eksploitasi tenaga kerja, khususnya terhadap kelompok rentan seperti perempuan.

Beberapa sektor yang disebut rentan terhadap eksploitasi antara lain buruh pabrik, buruh tani, masyarakat adat, ibu rumah tangga, pekerja kantor, hingga pedagang kecil.

Seruan Pendidikan Kerakyatan dan Politik Alternatif

Selain menyoroti isu ketenagakerjaan, massa aksi juga mengangkat persoalan pendidikan. Salah satu isu yang disoroti adalah kebijakan di sebuah kampus di Yogyakarta yang mengeluarkan surat edaran terkait kemungkinan pengeluaran mahasiswa yang tidak mampu membayar UKT.

Melalui solidaritas mahasiswa, berbagai upaya advokasi dilakukan untuk mendesak pihak kampus agar memberikan kebijakan yang lebih adil bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi.

Menjelang akhir kegiatan, aksi diisi dengan penampilan seni yang menambah nuansa solidaritas. Paduan Suara Gitaku membawakan sejumlah lagu perjuangan, sementara beberapa peserta aksi lainnya membacakan puisi.

Neng juga berharap berbagai elemen masyarakat seperti buruh, petani, mahasiswa, dan pelajar dapat terus menggalang kekuatan bersama.

“Kita perlu berdiskusi membicarakan tentang alat politik alternatif yang memang harus dibangun oleh kelas pekerja itu sendiri,” pungkasnya. (*)