Solidaritas tahanan politik Jakarta Utara pasca sidang putusan pada Senin, 29 Januari 2026 (Sumber: kontributor)Solidaritas tahanan politik Jakarta Utara pasca sidang putusan pada Senin, 29 Januari 2026 (Sumber: kontributor)

Jakarta, Edarinfo.com – Pagi yang gundah. Tiga kata yang cukup menggambarkan kisah kami ini.

Selasa, 10 Februari 2026 yang lalu, kami mempersiapkan diri menuju Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang. Suatu hal baru bagiku untuk mengunjungi para narapidana di lapas. Walaupun nantinya di sana, aku tak tahu apa yang harus dilakukan, lantaran tak ada tugas khusus, maka aku niatkan untuk bersolidaritas membersamai para tahanan politik (tapol) yang dituduh terlibat dalam Aksi Agustus, lalu.

Pukul delapan pagi aku berangkat menuju titik kumpul untuk naik mobil bersama. Kami menjemput para keluarga yang hendak ke lapas juga. Mobil kami mengarah ke Cilincing, untuk kedua kalinya aku berjumpa dengan Anis beserta ibu dan anaknya. Anis memiliki adik yang bernama Ruston Nawawi. Ruston juga menjadi korban kesewenang-wenangan aparat saat Aksi Agustus, lalu. Berdasarkan kesaksian Anis, walupun Ruston tidak terlibat dalam aksi, ia dilempar ke lift oleh aparat setelah ditangkap, saat hendak dibawa menuju ke polres terdekat.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Mobil dikendarai oleh Bapak dari Tri Hanu Dwika. Hanu yang akrab disapa Nunu ialah salah satu tapol yang hendak kami kunjungi. Kami akan menjemput Ibu Nur Baeti (ibu dari Nunu) yang mengurus surat kunjungan lapas bersama dengan Amel. Sedikit cerita, adik dari Amel (Agung Catur Nugroho) juga menjadi tapol saat Aksi Agustus, lalu. Sama seperti lainnya, saat sedang menonton aksi, adiknya dituduh aparat terlibat dalam aksi tersebut. Jadi dalam mobil kami, ada setidaknya tiga tapol yang akan kami temui.

Ibu Nur juga membawa cucunya untuk pergi bersama kami. Oh iya, di sampingku juga terdapat Oca (panggilannya) yang merupakan teman dari Hanu. Jadi, dalam mobil itu ada 7 orang ditambah 2 anak kecil yang bersama dalam perjalanan menuju Lapas Cipinang. 

Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Setibanya di sana, kami saling membantu untuk mengurus izin kunjungan. Bertemu dengan Rohanah yang merupakan ibu dari Saeful Anam dan Desi Ratnasari, ibu dari Fikram, menambah semangat kami untuk bersua dengan para tahanan politik yang belum menjumpai keadilannya.

Setelah sekitar 15 menit, kami masuk menuju tempat pertemuan kami dengan para tahanan politik. Walaupun jantungku berdegup kencang karena aku tak tahu apa-apa sebelumnya terkait mengunjungi narapidana, namun setelah melewati proses yang ketat, di selasar tempat perjumpaan, kami langsung disambut oleh live music. Aku kira semenakutkan itu, ternyata suasana terasa hangat.

Walaupun selasar ini terasa hangat, tetap saja menjadi tempat saksi bisu ketidakadilan para tahanan politik.  

Aku bersama Oca mencerna situasi ini sambil tetap mencoba beradaptasi dengan suasana. Para keluarga, teman, kerabat, kekasih, terlihat bahagia dan berempati satu sama lain saat bertemu dengan narapidana yang sedang mereka ajak berbincang. Saat itu, aku terharu bukan kepalang. 

Sambil menyusun makanan sejajar seperti “liwetan”, aku merasa bahagia. Bisa kugambarkan kebahagiaan itu. Melalui iringan musik, perbincangan satu sama lain yang melepas penat, pelukan di kursi, canda-tawa hibur satu sama lain, dan berbagai hal manis terasa menyentuh sangat dalam di sanubariku. 

Walaupun kita merasakan pilu yang berbeda, mereka di tahanan, kita di kehidupan bermasyarakat, namun harmoni rasanya bisa mendengarkan keluarga dan teman para narapidana berbincang ringan dan bercumbu satu sama lain melepas rindu.

Jam kunjungan yang dibuka dari pukul 9 pagi hingga 11 siang menjadi pembatas dari ruang temu kami. Seusai makan, berbincang-bincang, bel berbunyi. Pertanda sudah pukul 11 siang dan kita disegerakan untuk pulang. Aku yang tak banyak berbincang dengan mereka karena menikmati atmosfer pertemuan kala itu, merasa perlu untuk melaksanakan tugasku. Apa itu? Ya, memberi semangat. Mungkin itu hanya hal kecil. Namun, aku harap itu bisa menjadi api kecil yang terus menghangatkan para narapidana selama di lapas. 

Oh iya sebelumnya, saat seluruh pengunjung berbincang dengan para narapidana, aku request lagu dengan band yang tengah bernyanyi saat jam kunjungan tersebut. Aku meminta mereka untuk menyanyikan lagu “Dan” oleh Sheila on 7. Entah, hanya lagu itu yang terlewat dalam pikiranku.

Bel yang terus berdentang mendorong kita lekas membersihkan tempat yang telah kita duduki. Setelah kami bersalaman dan mengutarakan kata “semangat” kepada para narapidana, kami keluar dari selasar tempat pertemuan. Atmosfer berbeda kembali kami dapati. Kenyataan akan gersangnya jembatan empati di sudut jalan Kota Jakarta. Namun lebih dari semua itu, perjalanan tersebut mengajarkan kami tentang makna bersyukur dan nikmatnya merajut kebersamaan dalam welas asih yang lapang.