Makassar, Edarinfo.com – Penerbit Gasing resmi meluncurkan buku Kami Menanam di Tanah Sengketa: Kisah-Kisah Menanam Harapan dalam sebuah diskusi dan peluncuran buku yang digelar di Beranda Kopi, Makassar. Acara ini menghadirkan Kak Anis sebagai narasumber utama, serta dihadiri CEO Gasing Management Group, Pimen, para penulis, dan pegiat literasi.

Peluncuran ini bukan sekadar seremoni terbitnya buku baru. Momen tersebut menjadi penanda langkah awal Penerbit Gasing dalam membangun ruang dialektika literasi yang berkelanjutan. Gasing memosisikan diri tidak hanya sebagai penerbit, tetapi juga sebagai ekosistem yang mempertemukan penulis, akademisi, dan praktisi untuk melahirkan karya-karya sastra yang berpijak pada realitas sosial.

Buku Kami Menanam di Tanah Sengketa merupakan kumpulan cerpen yang lahir dari keresahan sekaligus harapan para penulisnya. Cerita-cerita di dalamnya merekam pengalaman kemanusiaan di tengah konflik, ketimpangan, serta luka sejarah yang masih membekas di berbagai ruang kehidupan.

Para penulis tidak hadir sebagai hakim ataupun pahlawan. Mereka memilih menjadi saksi, menulis dengan empati, merekam suara-suara yang kerap terpinggirkan, serta menunjukkan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan. Dari sanalah harapan ditanam, pelan namun bermakna.

Dalam diskusi peluncuran, Kak Anis menegaskan bahwa sastra memiliki peran penting dalam menjaga ingatan kolektif sekaligus membuka ruang kesadaran publik.

“Cerita-cerita dalam buku ini menunjukkan bahwa menulis bukan hanya soal estetika, tetapi juga keberanian untuk bersaksi. Di tengah tanah yang diperebutkan, para penulis memilih menanam harapan melalui kata-kata,” ujar Kak Anis.

Senada dengan itu, CEO Gasing Management Group, Pimen, menyampaikan bahwa buku ini menjadi fondasi awal arah penerbitan Gasing ke depan.

“Kami ingin Penerbit Gasing menjadi ruang tumbuh bagi penulis-penulis muda dan karya-karya yang jujur pada realitas sosial. Buku ini adalah bukti bahwa literasi bisa menjadi medium perjuangan yang lembut, namun berdampak,” ungkapnya.

Melalui peluncuran ini, Penerbit Gasing berharap buku tersebut tidak berhenti sebagai bacaan semata, melainkan menjadi ruang dialog dan refleksi bersama. Pembaca diajak mempertanyakan posisi keberpihakan, sekaligus merenungkan apa yang dapat ditanam hari ini demi masa depan yang lebih adil dan manusiawi.

Buku Kami Menanam di Tanah Sengketa: Kisah-Kisah Menanam Harapan kini telah tersedia dan dapat diperoleh dengan menghubungi Penerbit Gasing. (*)