Sosok, Edarinfo.com – Agfie Nurani Hanifah tidak pernah merencanakan hidupnya akan bermuara pada dunia konseling dan kesehatan mental. Latar belakang pendidikannya adalah matematika, sebuah disiplin ilmu yang identik dengan angka, logika, dan kepastian. Namun hidup, seperti emosi, tak selalu bisa dihitung dengan rumus.

Segalanya berubah ketika ia menjadi seorang ibu. Perubahan itu datang perlahan, namun menghantam. Mimpi-mimpi yang harus disimpan, aktivitas yang berhenti, jarak dengan keluarga, kehilangan sahabat dan dunia kerja, semuanya menumpuk menjadi beban batin yang sunyi.

“Setiap hari rasanya sedih, kesepian, tiba-tiba menangis tanpa tahu alasannya,” kenangnya melalui sesi wawancara bersama awak media kami, Senin, (26/01/26). Hari-hari dipenuhi perasaan hampa, overthinking, dan konflik dalam diri. Inilah fase yang oleh banyak orang disebut sebagai titik terendah.

Agfie berusaha pulih. Ia belajar memahami dirinya sendiri melalui hipnoterapi, sebuah ilmu yang dekat dengan kehidupannya karena sang suami adalah trainer hipnosis dan hipnoterapi. Namun ada satu kesadaran penting yang muncul: proses pulih tidak bisa dijalani sendirian, dan ikatan emosional justru membuat proses itu kian rumit.

Dari pengalaman itulah lahir sebuah refleksi: betapa banyak perempuan yang menjalani luka sendirian, tanpa ruang bercerita, tanpa teman berjalan. Kesadaran itu kemudian menjelma menjadi Jalanceritamu.id.

Dari Luka Pribadi ke Ruang Pemulihan

Bagi Agfie, Jalanceritamu bukan sekadar komunitas, melainkan perpanjangan dari perjalanan hidupnya sendiri. Sebuah ruang dukungan emosional bagi perempuan yang menghadirkan layanan curhat empatik, hipnoterapi, serta creative healing space, tempat di mana emosi bisa dilepas melalui cerita dan karya.

Pendekatan yang diusung Jalanceritamu melalui pendekatan yang lembut, aman, manusiawi, dan tidak menghakimi. Di ruang ini, perempuan tidak dituntut untuk kuat, apalagi berpura-pura baik-baik saja.

“Aku sadar, yang paling dibutuhkan perempuan bukan nasihat, bukan disuruh kuat, tapi sebuah jalan,” ujar Agfie.

Nama Jalanceritamu lahir dari pemahaman itu. Jalan adalah proses pemulihan, ia tidak instan, tidak selalu lurus, tapi bisa dilalui pelan-pelan. Sementara ceritamu menegaskan bahwa setiap perempuan memiliki kisahnya sendiri, dan tak seharusnya menjalani semua itu dalam kesendirian.

Perempuan dan Luka yang Dipendam

Dalam perjalanannya mendampingi banyak perempuan, Agfie menemukan pola yang berulang: kebiasaan memendam luka dan menormalisasi penderitaan. Banyak perempuan merasa baik-baik saja selama masih bisa bekerja, beraktivitas, dan memenuhi peran sosialnya.

Namun, luka yang dipendam tidak pernah benar-benar hilang. Ia bisa meledak dalam bentuk emosi, atau menjelma menjadi gangguan psikosomatis, sebuah penyakit fisik yang berakar dari tekanan mental.

“Ibarat menyeberang jalan tol, meski berhasil sampai seberang, itu tidak berarti aman,” katanya.

Kesadaran inilah yang membuat Jalanceritamu fokus menjadi ruang aman, tempat perempuan bisa berhenti sejenak, bernapas, dan jujur pada dirinya sendiri.

Mendampingi dengan Empati

Isu yang paling sering muncul dalam sesi pendampingan di Jalanceritamu adalah overthinking, kecemasan, kelelahan emosional, luka batin masa lalu, kehilangan kepercayaan diri, hingga perasaan sendirian dan tidak didengar.

Dalam proses pemulihan, Agfie memadukan hipnoterapi dengan pendampingan emosional dan creative healing. Tujuannya bukan untuk menghapus luka secara instan, melainkan membantu klien merasa aman, rileks, dan pulih perlahan dari dalam diri.

Menariknya, Jalanceritamu juga dibangun sebagai ruang yang inklusif. Layanan ini dapat diikuti oleh teman dengar maupun teman tuli, sebuah komitmen yang lahir dari keyakinan bahwa setiap perempuan berhak atas ruang pemulihan yang setara.

Menjaga Diri, Menjaga Ruang

Mengelola Jalanceritamu bukan tanpa tantangan. Bagi Agfie, tantangan terbesarnya adalah menjaga stabilitas emosional diri sendiri. Mendengarkan begitu banyak kisah luka, sementara ia sendiri pernah berada di posisi itu, menuntut kesadaran dan perawatan diri yang berkelanjutan.

Namun satu nilai yang selalu ia pegang teguh adalah empati, memberikan rasa aman, dan tidak menghakimi. Bagi Agfie, mendampingi perempuan berarti berjalan bersama, bukan menggurui.

Jalan Panjang Bernama Harapan

Ke depan, Agfie membayangkan Jalanceritamu tumbuh sebagai ruang pemulihan yang semakin inklusif, tempat perempuan, baik teman dengar maupun teman tuli, dapat bertumbuh dan mengenal dirinya secara lebih utuh.

Ia berharap, setiap kali perempuan mendengar nama Jalanceritamu, yang muncul bukan sekadar sebuah komunitas, melainkan sebuah harapan: bahwa mereka tidak sendirian, selalu ada jalan untuk dilalui bersama.

Karena bagi Agfie, pulih bukan tentang menjadi sempurna. Pulih adalah berani berjalan, meski itu perlahan.

Agfie Nurani Hanifah

Agfie Nurani Hanifah adalah konselor kesehatan mental dan pendiri Jalan Ceritamu, sebuah ruang aman untuk pendampingan emosional berbasis konseling, coaching, dan hypnotherapy. Berangkat dari latar belakang pendidikan matematika, Agfie memadukan pendekatan ilmiah dan empatik dalam mendampingi individu menghadapi kelelahan mental, kecemasan, trauma, dan krisis arah hidup.

Fokus Keahlian

  • Konseling Kesehatan Mental
  • Hypnotherapy & Emotional Healing
  • Pendampingan Krisis Emosional
  • Edukasi & Literasi Kesehatan Mental

Latar Belakang Pendidikan

  • Magister & Sarjana Pendidikan Matematika
  • Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pendidikan Matematika

Sertifikasi Utama

  • Certified Hypnosis & Hypnotherapy
  • Certified Professional Hypnotherapy
  • Certified Mental Health & Counseling Specialist
  • Certified Coaching, Therapy & Counseling Skills

Pengalaman Profesional

  • Founder & Konselor – Jalan Ceritamu
  • Hipnoterapis di Ayyara Hypnotherapy
  • Guru Matematika

Motto : “Setiap orang punya cerita, dan setiap cerita layak didengar tanpa dihakimi.”