Kendari, Edarinfo.com – Bayu Sanggra Wisesa resmi memperkenalkan gagasan kebangsaan bertajuk Triharmoni Bangsa, sebuah kerangka pikir yang menekankan penguatan karakter masyarakat Indonesia melalui tiga pilar utama: Beriman, Berbangsa, dan Berkeadilan. Konsep ini disusun sebagai respons terhadap dinamika sosial, politik, dan ekonomi yang menuntut arah baru pembangunan karakter bangsa.
Triharmoni Bangsa menegaskan bahwa pembangunan nasional tidak hanya berorientasi pada kemajuan material, tetapi juga pada kematangan spiritual, keteguhan identitas kebangsaan, serta penegakan keadilan yang merata. Seluruh pilar dirancang selaras dengan nilai Pancasila, UUD 1945, dan prinsip demokrasi modern.
Pilar Beriman menekankan pentingnya spiritualitas yang inklusif, bukan sebatas ritual, melainkan pembentukan etika publik yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Pilar Berbangsa mengajak masyarakat memelihara persatuan nasional di tengah keberagaman dengan menolak segala bentuk fragmentasi. Sementara itu, pilar Berkeadilan menyoroti pemerataan kesempatan serta perlindungan bagi seluruh warga negara sebagai syarat kemajuan bangsa.
Konsep ini akan dituangkan dalam sebuah buku berjudul “Triharmoni Bangsa”, yang diarahkan menjadi panduan strategis bagi lembaga publik, akademisi, organisasi masyarakat, hingga komunitas akar rumput. Manifesto tersebut diharapkan menjadi rujukan moral dan intelektual dalam menyatukan visi pembangunan Indonesia ke depan.
“Triharmoni Bangsa hadir untuk menjawab kebutuhan akan gagasan besar yang menyatukan semangat bangsa. Di tengah dinamika global, Indonesia memerlukan masyarakat yang kuat, relevan, dan berpijak pada jati diri nasional,” ujar Bayu Sanggra Wisesa.
Triharmoni Bangsa direncanakan akan terus disosialisasikan melalui forum diskusi, publikasi, dan kolaborasi antar sektor.
Dalam visi jangka panjangnya, Bayu membayangkan munculnya kekuatan politik baru yang tidak membawa label ideologis lama, melainkan mengusung nilai Islam, keadilan sosial, antikorupsi, antioligarki, dan keberpihakan kepada rakyat. Gerakan ini diproyeksikan dapat menjadi wadah buruh, tani, santri, hingga intelektual muda untuk menawarkan rekonsiliasi masa depan tanpa memperpanjang trauma sejarah.
“Kami adalah jalan tengah yang radikal: berpijak pada bumi rakyat, bersandar pada langit moral,” tegasnya.