Sosok, Edarinfo.com – Di tengah derasnya konten hiburan yang memenuhi lini masa media sosial, ada satu nama yang menghadirkan ruang teduh bagi banyak orang, Muhammad Badri Mukarram. Ya, ia merupakan seorang Islamic Content Creator yang konsisten menyebarkan renungan kehidupan, tadabbur Al-Qur’an, dan pesan-pesan kebaikan kepada lebih dari 50 ribu pengikutnya di Instagram dan TikTok.
Bagi Badri, dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan-pesan Islami; ia adalah medan jihad untuk meraih ridho Allah SWT
Berawal dari Tradisi Pesantren, Tumbuh Menjadi Kreator Dakwah
Perjalanan Badri di dunia dakwah digital tidak dapat dilepaskan dari akar pendidikannya. Ia ditempa oleh lingkungan pesantren yang kuat: mulai dari Pondok Modern Darussalam Gontor, Pondok Pesantren Baitul Qur’an Indonesia, hingga melanjutkan studi di Universitas Darussalam Gontor dan Institut Asy-Syukriyyah.
Di Gontor, ia bukan hanya santri. Ia aktif sebagai pengurus Divisi Public Speaking dan pembimbing Jam’iyyatul Khutaba (JMK), program kaderisasi pendakwah muda. Di titik inilah keterampilannya dalam komunikasi publik terbentuk, keterampilan yang kemudian ia bawa ke dunia digital.
“Awalnya saya hanya sering scroll-scroll di sosmed dan banyak menemukan konten-konten dakwah dari kreator lainnya, kemudian saya berpikir, kok saya cuman jadi penikmat, kenapa saya gak jadi pelaku juga. Kan sayang jika ilmu yang didapat di pesantren gak dimanfaatkan. Ya udah Bismillah,” ujarnya dalam sesi wawancara bersama awak media kami, Jum’at, (28/11/25).
Dakwah Media Sosial di Tengah Gempuran Konten Negatif
Badri melihat realitas yang tak bisa diabaikan, media sosial adalah tempat berkumpulnya manusia hari ini, termasuk mereka yang tidak sempat hadir di majelis ilmu.
Di antara ribuan konten yang lewat setiap detik, banyak yang berisi provokasi, body shaming, tontonan tidak mendidik, hingga tren-tren yang merusak pola pikir anak muda.
“Banyak orang sibuk. Mereka mungkin tidak sempat datang ke kajian, tapi setiap orang pasti punya handphone. Setiap hari mereka buka Instagram, TikTok. Di situ peluang dakwah terbuka lebar,” tuturnya.
Meramu Konten dengan Kebermanfaatan dan Ketenangan
Konten Badri punya ciri khas: tenang, lembut, dan langsung menembus ruang batin pendengarnya. Ia tidak mengejar sensasi. Ia tidak mengejar viral. Ia mengejar kebermanfaatan dalam setiap konten-konten yang ia buat.
“Saya menekankan kualitas dan ketenangan dalam setiap karya, bukan sekadar tren atau angka,” ujat Badri.
Proses kreatifnya sederhana, ia memilih tema-tema konten yang relate dengan kehidupan anak muda, baik itu tema yang sering lahir dari ayat yang ia tadabburi, pengalaman hidup, hingga curhatan pengikutnya. Ia berusaha membawa nilai Al-Qur’an lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Dalam membuat konten saya tanya kedalam diri saya sebelumnya, apakah konten ini membuat orang lebih dekat dengan Allah atau tidak? Kalau tidak, saya urungkan,” katanya.
Sikap inilah yang membuatnya dipercaya, terutama oleh generasi muda yang mencari konten dakwah yang relevan, ringan, tapi tetap berdasar pada nilai-nilai Islam.
Menjawab Tantangan Dakwah di Era Digital
Menjadi kreator dakwah bukan tanpa tantangan. Arus komentar negatif, perbedaan pandangan, dan godaan membuat konten viral kerap datang menghampiri.
Namun bagi Badri, kritik adalah bahan bakar untuk memperbaiki diri.
“Orang bisa komentarin apa saja. Tapi pada akhirnya, Allah yang tentuin,” ungkapnya, sebuah kalimat yang kemudian menjadi salah satu prinsip yang ia selalu pegang dalam menekuni dunia kreator dakwah.
Ia sadar, dakwah digital menuntut sensitivitas. Karena itu, ia selalu melakukan verifikasi materi, berdiskusi dengan guru dan mentor, serta menjaga agar setiap kalimat tetap dalam koridor nilai-nilai Islam.
Dampak Nyata dari Layar Ponsel
Di balik setiap video satu menit, Badri menerima banyak pesan yang membuat langkahnya semakin mantap.
Ada yang mengaku bangkit dari depresi. Ada yang kembali menyentuh mushaf. Ada yang merasa hidupnya lebih ringan hanya karena satu kalimat yang ia sampaikan.
“Setiap mendapatkan DM dari teman-teman yang mengikuti konten saya dan mereka merasa terbantu dari konten-konten yang saya bikin. Di situ saya merasa semangat dan bahagia bisa membantu orang-orang bangkit lewat konten yang saya buat”,” katanya.
Interaksinya dengan audiens membuatnya memahami satu hal penting: generasi hari ini bukan tidak mau belajar agama. Mereka hanya ingin disampaikan dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka.
Menyebarkan Manfaat di Dunia Nyata
Meski dikenal di dunia maya, kiprah Badri di dunia nyata tidak kalah aktif. Ia:
- Mengisi kajian di berbagai majelis pemuda, kampus, dan komunitas
- Menjadi moderator dan MC di kajian akbar dan event-event nasional
- Menjadi ketua komunitas dakwah Fadlul Mufid
- Terlibat di forum pelatihan da’i muda
Pengalaman-pengalaman lapangan inilah yang kemudian menjadi bahan refleksi dalam konten-kontennya. Ia melihat langsung kegelisahan anak muda, tantangan zaman, dan kebutuhan akan dakwah yang lebih membumi.
Menjembatani Dakwah, Bisnis, dan Kebermanfaatan
Selain berdakwah, Badri juga menekuni dunia usaha yang sejalan dengan visi kemaslahatan. Ia menjadi Mitra Umrah Samira, membantu masyarakat memahami dan merencanakan perjalanan ibadah ke Tanah Suci.
Ia juga merintis BeeMora, brand madu alami yang ia bangun sebagai bentuk kontribusi kesehatan masyarakat.
Baginya, dakwah dan bisnis tidak berseberangan. “Bisnis bagi saya, itu cara saya untuk menjemput rezeki-rezeki dari Allah, supaya kita (Da’i) tidak bergantung penghasilan dari Dakwah,” terangnya.
Mimpi Besar untuk Dakwah Digital
Melihat ke depan, Badri memiliki visi membangun ekosistem dakwah digital yang lebih profesional dan berkelanjutan. Ia ingin menciptakan platform konten, ruang belajar, serta komunitas yang menggabungkan spiritualitas, kreativitas, dan kepemimpinan muda.
Ia percaya bahwa generasi baru butuh pendekatan baru: dakwah yang tidak menggurui, tidak menghakimi, tapi membimbing.
Suara Teduh dari Generasi Baru
Muhammad Badri Mukarram adalah representasi anak muda yang menjadikan media sosial bukan sebagai tempat pamer, tetapi sebagai ladang amal. Dari pesantren ke panggung kajian, dari mimbar ke timeline Instagram, ia membangun jembatan antara keindahan Al-Qur’an dan kegelisahan anak muda masa kini.
Dan dari semua perjalanan itu, ia merangkum satu prinsip hidup sederhana:
“Hidup dijalanin, orang yang komentarin, Allah yang tentuin.”
Sebuah visi yang membuatnya terus melangkah, tenang, konsisten, dan penuh kebermanfaatan.
Muhammad Badri Mukarram
Public Speaker dan Islamic Content Creator asal Palembang yang aktif mengangkat renungan kehidupan dan tadabbur Al-Qur’an dalam bentuk konten inspiratif di media sosial. Saat ini memiliki jangkauan lebih dari 50.000 pengguna aktif di Instagram dan TikTok. Selain berdakwah melalui konten digital, juga aktif membina majelis, komunitas, dan mengisi kajian pemuda di berbagai daerah.
Pendidikan
- Pondok Modern Darussalam Gontor
- Universitas Darussalam Gontor
- Pondok Pesantren Baitul Qur’an Indonesia
- Institut Asy-Syukriyyah
Pengalaman & Aktivitas
Kepesantrenan & Dakwah
- Pengurus Divisi Public Speaking & Forum Diskusi Santri, Gontor
- Pembimbing Jam’iyyatul Khutaba Gontor (JMK) — program pembinaan santri unggul dalam public speaking
- Koordinator Bidang Bahasa, Pesantren Baitul Qur’an Depok
- Aktif di forum pengembangan kapasitas da’i muda — IKADI
- Ketua komunitas dakwah Fadlul Mufid
- Pengisi kajian & motivasi keislaman di majelis pemuda, kampus, dan komunitas
Public Speaking & Moderasi Acara
- Moderator berbagai event nasional: Perkemahan Pesantren Nasional, Kajian Akbar, dan diskusi bersama tokoh nasional
- Juri Kompetisi Da’i Islam 100 Tahun Gontor, Magelang
Prestasi
Juara Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) Tingkat Nasional — Cabang 5 Juz, Universitas PTIQ Jakarta
Karya & Kontribusi Media
- Penulis artikel di Majalah GONTOR Magelang
- Penulis eBook bertema refleksi dan inspirasi Islami
- Islamic content creator di Instagram & TikTok
Bisnis & Kolaborasi
- Mitra Umrah Samira — edukasi & ajakan beribadah ke Tanah Suci melalui aktivitas dakwah
- Founder BeeMora — brand madu alami berfokus pada kesehatan masyarakat
Motto
“Hidup dijalanin, orang yang komentarin, Allah yang tentuin.”