Opini, Edarinfo.com– Saat ini, sebagian umat Islam di Suriah sedang bereuforia merayakan tumbangnya pemerintahan Bashar al-Assad, mereka menganggapnya sebagai sebuah kemenangan umat Islam. Namun, benarkah ini sebuah kemenangan? Kemenangan bagi siapa? Dan apakah kita harus benar-benar bergembira atas peristiwa ini? Lebih jauh lagi, apakah kejatuhan Assad benar-benar membawa manfaat bagi umat Islam, khususnya dalam perjuangan besar seperti pembebasan Palestina dan Al-Quds?

Dinamika Konflik di Suriah

Seperti yang kita ketahui, gelombang konflik yang melanda Suriah dewasa ini melibatkan berbagai aktor, salah satunya adalah Hay’at Tahrir al-Sham (HTS). HTS, kelompok pemberontak yang pimpinannya merupakan jebolan Al-Qaeda, telah menjadi pemain kunci dalam melemahkan rezim Assad. Meskipun mereka beroperasi di Suriah, HTS tetap mempertahankan ideologi keras yang diwarisi dari Al-Qaeda, sebuah organisasi yang dikenal dengan jihad globalnya yang ekstrem.

Keberadaan HTS turut memicu ketidakstabilan di Suriah, yang dimanfaatkan oleh berbagai negara besar, termasuk Israel. Pasca tumbangnya rezim Assad, reaksi positif dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyoroti betapa pentingnya perubahan ini bagi Israel. Dalam pernyataan resminya, Netanyahu menyebut kejatuhan Assad sebagai langkah penting yang membuka peluang baru bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa tumbangnya Assad lebih menguntungkan Israel daripada umat Islam secara umum.

Kepentingan Israel di Suriah

Mengapa Israel begitu antusias dengan kejatuhan Assad? Salah satu alasannya adalah posisi strategis Dataran Tinggi Golan, wilayah yang dikuasai Israel sejak 1967. Golan memberikan keuntungan militer dan ekonomi yang sangat besar bagi Israel, serta menjadi simbol kekuatan dominasi di kawasan Timur Tengah. Dengan melemahnya rezim Assad, Israel memperkuat posisinya di Golan tanpa perlawanan berarti dari pihak-pihak seperti HTS. Hal ini memunculkan dugaan adanya hubungan tidak langsung antara HTS dan Israel, terutama mengingat HTS didukung oleh Turki, yang selama ini lebih fokus pada menggulingkan Assad daripada melawan pendudukan Israel di Palestina.

Sikap Turki dan Geopolitik Kawasan

Turki, di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan, sering memposisikan diri sebagai pembela umat Islam. Namun, dalam konflik Suriah, Turki justru mendukung kelompok pemberontak yang berorientasi pada kepentingan geopolitiknya sendiri. Sikap pragmatis ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana komitmen Turki terhadap perjuangan Palestina.

Kronologi perjuangan Suriah dalam mempertahankan Golan tidak bisa dilepaskan dari peran Hafez al-Assad, ayah Bashar al-Assad. Sejak Perang Enam Hari 1967 hingga Perang Yom Kippur 1973, Suriah terus berupaya merebut kembali wilayah tersebut. Bashar al-Assad mewarisi kebijakan keras ayahnya dengan tetap mempertahankan klaim atas Golan, meskipun harus menghadapi perang saudara yang berkepanjangan.

Narasi Konflik: Bukan Sekadar Sektarian

Anggapan bahwa Assad hanya didukung oleh kelompok Syiah adalah narasi yang keliru. Banyak ulama Sunni, seperti Ahmad Badreddin Hassoun (Mufti Besar Suriah) dan Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi, memberikan dukungan kepada Assad karena melihat perjuangan melawan Israel dan kelompok ekstremis seperti ISIS sebagai kepentingan bersama umat Islam. Al-Buthi bahkan menjadi korban serangan bom pada 2013 di masjid oleh pemberontak anti-Assad. Ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap Assad melampaui batasan sektarian semata.

Implikasi bagi Perjuangan Palestina

Kejatuhan Assad bukan hanya menjadi kemenangan bagi pemberontak atau negara-negara besar seperti Turki, tetapi juga membuka babak baru bagi Israel untuk memperkuat posisinya di Timur Tengah. Israel kini memiliki lebih banyak ruang untuk mengamankan kepentingannya di kawasan, terutama di Golan, yang semakin sulit direbut kembali oleh Suriah. Hal ini secara langsung memengaruhi perjuangan Palestina yang membutuhkan dukungan dari negara-negara kuat di kawasan.

Bagi para Mujahidin sejati di Palestina, kejatuhan Assad justru memperberat perjuangan mereka. Kehilangan salah satu pendukung stabilitas di kawasan ini membuat mereka semakin rentan terhadap dominasi Israel. Oleh karena itu, umat Islam perlu mempertimbangkan dampak strategis dari peristiwa ini sebelum merayakannya sebagai sebuah kemenangan.

Sebagai catatan, analisis ini masih dapat diperbarui seiring dengan perkembangan informasi yang lebih akurat. Namun, penting bagi kita semua untuk lebih kritis dalam membaca berita dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda media yang sering menyebarkan hoaks serta politik adu domba.

Sebagai umat Islam, kita memiliki kewajiban untuk terus membantu perjuangan Palestina dalam bentuk apa pun yang kita mampu, baik melalui doa, dukungan moral, maupun bantuan materi. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan umat Islam, maka dia bukan bagian dari mereka” (HR. Muslim). Maka, jika kita tidak peduli dengan perjuangan Palestina, kita termasuk orang-orang yang abai terhadap kewajiban umat Islam untuk saling membantu.

Penulis, Ahmad Aswar Alimuddin (Ketua Sidrap Cinta Palestina)

Editor: Hamka Pakka